Riska berdiri di depan cermin kamar pembantu, tangannya gemetar saat mengancingkan seragam biru muda yang ketat itu. Kenapa seragam ini harus segini pendek? Setiap kali membungkuk, bokongku hampir kelihatan. Tapi gaji bulan ini sudah dikirim ke ibu di desa… aku nggak boleh berhenti. Pak Hendra orangnya baik kok, selama ini. Pikirnya dalam hati sambil menghela napas panjang.
Baru dua bulan ia bekerja di rumah mewah dua lantai di kawasan elite Surabaya ini. Pak Hendra, pengusaha sukses berusia 48 tahun, selalu ramah. Tapi akhir-akhir ini, tatapannya berbeda. Istri beliau, Bu Rina, hampir selalu ke luar kota untuk bisnis. Rumah besar ini terasa sepi, hanya ada Riska dan Pak Hendra yang kadang muncul tiba-tiba.
Pagi itu, Riska membersihkan kamar utama seperti biasa. Ia membungkuk membersihkan debu di bawah meja rias, rok seragamnya naik hingga memperlihatkan paha putih mulus dan celana dalam hitam tipis yang menempel ketat di bokongnya yang bulat kencang.
Pak Hendra duduk di kursi kerja sudut kamar, pura-pura membaca koran. Tapi matanya tak lepas dari tubuh Riska. Sialan… lihat itu. Memeknya pasti masih sempit banget. Sudah dua bulan aku tahan. Istriku jarang pulang, dan Riska ini… tubuhnya dibuat untuk dientot. Hari ini aku nggak tahan lagi.
"Riska," panggilnya dengan suara berat dan tenang.
Riska menegakkan tubuh, menoleh. "Iya, Pak? Ada yang bisa saya bantu?"
"Sini sebentar. Duduk di sofa." Pak Hendra menepuk bantal di sebelahnya.
Riska ragu. Kenapa tiba-tiba? Biasanya beliau nggak pernah begini. Tapi ia tetap mendekat, berdiri di depan sofa. "Maaf Pak, saya masih banyak kerjaan di bawah."
Tiba-tiba Pak Hendra berdiri, tangan besarnya langsung mencengkeram lengan Riska kuat-kuat hingga gadis itu meringis. "Dengar ya, Riska. Kamu tahu gaji kamu saya kasih dua kali lipat dari pembantu lain? Rumah ini sepi. Saya butuh pelayanan… khusus dari kamu."
Riska mencoba menarik tangannya. Jantungnya berdegup kencang. Apa maksudnya? Jangan-jangan… "Pak… lepas dulu tangannya. Saya cuma pembantu biasa. Tolong jangan begini."
Pak Hendra tersenyum dingin. Matanya gelap penuh nafsu. Ia mendorong Riska ke tempat tidur king-size itu dengan keras hingga gadis itu terjatuh telentang, roknya tersingkap tinggi. "Kamu pikir bisa nolak? Kalau kamu teriak atau lari, besok saya bilang kamu mencuri perhiasan istri saya. Kamu tahu kan keluarga kamu di desa butuh uang ini? Atau mau saya pecat sekarang juga tanpa pesangon sepeser pun?"
Tidak… tidak boleh begini. Aku harus kabur… tapi ibu sakit, adik sekolah… Air mata Riska langsung menggenang. Tubuhnya gemetar hebat. "Pak Hendra… please… jangan lakukan ini. Saya masih perawan… tolong…"
Pak Hendra tertawa pelan sambil naik ke atas tubuh Riska, menindihnya. Perawan? Makin enak dong. Kontolku sudah ngaceng dari tadi. Ia mencium leher Riska kasar, gigitannya meninggalkan bekas merah. Tangan kanannya meremas payudara kiri Riska dari atas seragam dengan kasar.
"Ahh… Pak… sakit… lepas!" Riska meronta, tangannya mendorong dada Pak Hendra yang bidang. Tapi tenaganya tak seberapa.
Kenapa tubuhku panas begini? Aku takut… tapi putingku… kenapa mengeras? batin Riska panik.
Pak Hendra membuka kancing seragam Riska satu per satu dengan cepat. Bra hitam tipisnya langsung terlihat. Ia menarik bra itu ke bawah hingga kedua payudara montok Riska melambung keluar. Putingnya yang pink kecil sudah tegang. Pak Hendra langsung menyedot puting kiri dengan rakus, lidahnya berputar-putar sambil menggigit pelan.
"Nghh… Pak… jangan… ahh…" Riska menggeliat, napasnya tersengal.
Enak… tapi ini salah! Aku nggak boleh basah… pikir Riska malu.
Tangan Pak Hendra turun, menyusup ke bawah rok Riska. Jarinya merobek celana dalam tipis itu dengan kasar. "Lihat ini… memekmu sudah basah, Riska. Bohong kalau bilang nggak mau." Ia menggosok klitoris Riska dengan jari tengahnya kasar dan cepat.
Kenapa memekku basah? Aku benci ini… tapi rasanya… aneh… enak… Riska menggigit bibir bawahnya kuat-kuat sampai berdarah sedikit.
Pak Hendra membuka resleting celananya, mengeluarkan kontolnya yang sudah tegang maksimal. Batangnya panjang, tebal, berurat, dan ujungnya mengkilap cairan precum. "Ini kontol majikanmu, Riska. Hari ini dia mau masuk ke memek pembantunya yang cantik."
"Tidak… Pak… jangan masukkan… aku takut… sakit…" Riska memohon sambil menangis, kakinya mencoba menutup.
Pak Hendra memegang kedua paha Riska, membukanya lebar-lebar. Memeknya pink dan sempit banget. Aku mau ngerusaknya. Ia menempelkan kepala kontolnya di bibir memek Riska, lalu mendorong masuk dengan satu hentakan kuat.
"AAAAAHHH!!" Riska menjerit keras. Rasa perih dan penuh yang luar biasa membuatnya hampir pingsan. Darah tipis bercampur cairan keluar dari memeknya. Sakit sekali… kontolnya terlalu besar… memekku robek…
Pak Hendra mendesah panjang penuh kenikmatan. "Fuuuhh… enak sekali memekmu, Riska. Sempit, panas, dan basah. Sudah lama aku pengen ngentot kamu kayak gini." Ia mulai menggenjot dengan ritme lambat tapi dalam, setiap hentakan membuat tubuh Riska bergoyang-goyang di atas kasur.
"Uh… uh… uh… Pak… pelan… sakit…" Riska menangis, tangannya mencengkeram sprei.
Tapi lama-kelamaan, rasa sakit mulai bercampur dengan kenikmatan yang tak diinginkan. Memek Riska semakin basah, cairannya mengalir deras. Kenapa tubuhku berkhianat? Aku nggak mau suka… tapi dalam-dalam enak… kontolnya menggesek titik yang aneh…
Pak Hendra mempercepat ritme. "Lihat kamu mulai basah banget. Kamu suka ya, Riska? Bilang! Bilang kamu suka kontol majikanmu!"
Tidak… aku nggak boleh bilang… "Aku… aku nggak suka… ahh… ahh…" Riska berbohong, tapi erangannya sudah mulai keluar.
Pak Hendra tertawa puas. Ia menarik kontolnya keluar sebentar, lalu membalik tubuh Riska menjadi posisi doggy style. Bokong Riska yang montok dan bulat sekarang terpampang sempurna di depannya. Ia menampar bokong itu keras dua kali hingga memerah.
"Plak! Plak!"
"Aduh!!" Riska menjerit.
Malu sekali… bokongku dilihat begini… tapi kenapa memekku semakin berdenyut?
Pak Hendra memegang pinggul Riska kuat-kuat, lalu menusukkan kontolnya lagi dari belakang dengan satu hentakan dalam. "Sekarang aku mau ngentot kamu kayak anjing, Riska. Bokongmu enak banget digoyang-goyang." Ia menggenjot dengan cepat dan kuat, suara "plok plok plok plok" memenuhi kamar mewah itu. Setiap hentakan kontolnya menyentuh dasar memek Riska.
"Ahh… ahh… Pak… terlalu dalam… aku… aku nggak tahan…" Riska menggigit bantal, air matanya basah sprei.
Kenapa enak sekali? Aku mau… aku mau keluar… tapi ini salah… Pikiran Riska kacau balau.
Pak Hendra menarik rambut Riska ke belakang seperti tali kekang, membuat punggung gadis itu melengkung. "Kamu milikku sekarang, Riska. Setiap kali istriku pergi, memekmu harus siap untuk kontolku. Mengerti?"
"Ya… ya Pak… ahh… ahh…" Riska tak kuasa menahan erangan lagi.
Pak Hendra semakin buas. Ia meraih payudara Riska dari belakang sambil terus mengentot tanpa henti. Keringat mereka bercampur. Setelah hampir dua puluh menit berganti posisi—dari doggy, ke missionary lagi, lalu Riska di atas meski ia tak berdaya—Pak Hendra akhirnya mendekati klimaks.
"Aku mau keluar… terima sperma majikanmu, Riska!" Ia mengerang keras, hentakannya semakin cepat dan dalam.
Jangan di dalam… aku belum minum pil… Riska panik dalam hati.
Dengan hentakan terakhir yang sangat kuat, Pak Hendra menyemburkan sperma panasnya deras ke dalam memek Riska. Jet demi jet cairan kental memenuhi rahim gadis itu hingga meluber keluar di sekitar kontolnya.
"Uhhh… enak sekali…" desah Pak Hendra puas.
Riska ambruk lemas di tempat tidur, tubuhnya bergetar hebat. Memeknya berdenyut-denyut penuh sperma. Aku… aku baru saja diperkosa… tapi kenapa tubuhku… masih ingin?
Pak Hendra menarik kontolnya keluar perlahan, lalu mengusapnya di bokong Riska yang memerah. Ia membelai rambut Riska dengan lembut, kontras dengan tindakannya tadi. "Ini baru ronde pertama, Riska. Istirahat sebentar. Siang nanti kita lanjut di kamar mandi. Mulai hari ini, kamu adalah pelacur pribadiku. Kalau kamu patuh, gaji kamu saya tambah lagi. Kalau nggak… kamu tahu konsekuensinya."
Riska hanya bisa menangis pelan, tapi di dalam hatinya ada badai: Aku benci dia… tapi tubuhku sudah takluk… apa aku akan jadi seperti ini selamanya?
Pak Hendra tersenyum puas sambil merapikan celananya. "Mandilah dulu. Malam ini kita lanjut lagi. Aku belum puas."
Ronde 2 di Kamar Mandi
Setelah ronde pertama yang melelahkan di atas tempat tidur, Riska berbaring lemas dengan tubuh penuh keringat dan sperma yang masih menetes dari memeknya. Pak Hendra berdiri di samping tempat tidur, kontolnya masih setengah tegang dan berkilau basah.
“Bangun, Riska. Kita lanjut di kamar mandi. Badanmu kotor sekarang, harus dibersihkan… sekaligus aku bersihkan memekmu dengan kontolku lagi,” kata Pak Hendra sambil tersenyum lebar, suaranya penuh nafsu.
Riska mencoba duduk, tapi kakinya lemas. Aku baru saja diperkosa… memekku masih perih dan penuh sperma… kenapa dia masih mau lagi? Tubuhku sakit semua… tapi kenapa memekku masih berdenyut seperti ini? Air matanya masih mengalir pelan. “Pak… tolong… saya capek sekali. Biarkan saya istirahat dulu…”
Pak Hendra tak peduli. Ia menarik lengan Riska dengan kuat, memaksa gadis itu berdiri. Seragamnya sudah acak-acakan, bra masih tersingkap, payudaranya terlihat merah karena remasan tadi. “Capek? Kamu baru mulai, Riska. Ingat, kamu sekarang pelacur pribadiku. Kalau kamu patuh, hidupmu enak. Kalau nggak… keluargamu yang susah.”
Dia benar… aku nggak punya pilihan. Tapi aku takut… kontolnya terlalu besar… Riska hanya bisa mengangguk lemah sambil tertunduk.
Pak Hendra menuntun Riska masuk ke kamar mandi utama yang mewah, dengan bathtub besar, shower rain, dan dinding kaca buram. Ia menyalakan shower air hangat hingga uap mulai memenuhi ruangan. “Lepas semua bajumu. Aku mau lihat tubuhmu telanjang sepenuhnya.”
Dengan tangan gemetar, Riska melepas sisa seragam dan bra-nya. Kini ia benar-benar telanjang di depan majikannya. Kulit putih mulusnya berkilau karena keringat, payudaranya montok dengan puting masih tegang, dan memeknya yang pink sedikit bengkak serta belepotan sperma putih kental.
Pak Hendra memandanginya dari atas ke bawah sambil mengusap kontolnya yang mulai mengeras lagi. Lihat tubuh ini… sempurna. Payudara besar, pinggang kecil, bokong montok. Memeknya masih sempit meski sudah aku robek tadi. Hari ini aku mau isi dia sampai penuh.
“Masuk ke bawah shower,” perintahnya.
Riska melangkah masuk. Air hangat mengguyur tubuhnya, membasahi rambut panjangnya yang hitam. Pak Hendra ikut masuk, tubuhnya yang kekar dan berbulu dada menempel di belakang Riska. Kontolnya yang sudah keras kembali menekan bokong Riska.
Ia meraih sabun cair, menuang ke tangannya, lalu mulai menggosok tubuh Riska dengan lembut di awal — tapi cepat berubah kasar. Tangan besarnya meremas payudara Riska dari belakang, jarinya memilin putingnya.
“Ahh… Pak… pelan…” Riska menggeliat, suaranya lemah bercampur erangan.
Kenapa sentuhannya sekarang beda… tadi kasar, sekarang seperti memijat… putingku lagi-lagi mengeras… aku malu…
“Memekmu masih penuh spermaku,” bisik Pak Hendra di telinga Riska sambil tangannya turun ke bawah. Jarinya menyusup ke celah memek Riska, mengaduk-aduk sperma yang masih ada di dalam. “Aku mau bersihkan… dengan kontolku.”
Riska gemetar. Lagi… dia mau masukkan lagi… di sini…
Pak Hendra memutar tubuh Riska menghadapnya, lalu mengangkat satu kaki Riska ke pinggir bathtub sehingga memeknya terbuka lebar. Air shower terus mengguyur mereka. Ia menempelkan kepala kontolnya yang tebal ke bibir memek Riska yang sudah basah lagi — kali ini campuran air dan cairan tubuhnya sendiri.
“Masukkan sendiri, Riska. Pegang kontolku dan masukkan ke memekmu,” perintah Pak Hendra dengan suara tegas.
Apa? Aku harus masukkan sendiri? Malu sekali… tapi kalau nggak, dia pasti marah… Riska menangis pelan, tapi tangannya yang kecil gemetar memegang batang kontol Pak Hendra yang panas dan berdenyut. Ia mengarahkan ujungnya ke lubang memeknya, lalu perlahan menurunkan pinggulnya.
“Ngghhh… ahhh!!” Riska mendesah kesakitan saat kepala kontol masuk lagi. Meski sudah basah, memeknya masih terasa sempit dan perih karena ronde pertama.
Pak Hendra mengerang nikmat. “Bagus… pelan-pelan… masukkan semuanya.” Ia memegang pinggul Riska dan mendorong ke bawah dengan kuat hingga kontolnya tenggelam sepenuhnya.
“Aaaahhh… terlalu dalam, Pak… aku… aku penuh…” Riska memeluk leher Pak Hendra karena tak kuat berdiri sendiri. Air shower membuat tubuh mereka licin.
Pak Hendra mulai menggerakkan pinggulnya naik-turun, mengentot Riska dalam posisi berdiri sambil satu kaki gadis itu diangkat. Setiap hentakan membuat suara “plok plok plok” bercampur suara air shower. Tangan kirinya meremas bokong Riska, jari tengahnya bahkan menyentuh lubang anus gadis itu.
“Memekmu semakin enak setelah aku isi tadi. Sekarang lebih licin,” kata Pak Hendra sambil mencium leher Riska, gigitannya meninggalkan bekas baru. “Bilang, Riska… bilang kamu suka dikentot majikanmu di kamar mandi.”
Tidak… aku nggak suka… tapi rasanya… kontolnya menggesek dinding memekku… titik G-ku… ahh… Riska menggigit bibir. “Saya… saya nggak… ahh… ahh… suka… Pak…”
Pak Hendra tertawa dan mempercepat hentakannya. Ia membalik tubuh Riska menghadap dinding kaca, memaksa Riska menumpukan kedua tangan di dinding. Bokongnya sekarang menonjol ke belakang. Pak Hendra memegang pinggulnya kuat, lalu menggenjot dari belakang dengan ritme cepat dan dalam.
“Plok! Plok! Plok! Plok!”
“Ahh… ahh… Pak… terlalu kasar… shower-nya… airnya masuk ke memekku…” Riska erang-erang, suaranya semakin lama semakin tinggi.
Kenapa enak sekali… aku mau keluar… tubuhku panas… aku nggak tahan lagi…
Pak Hendra menampar bokong Riska beberapa kali di bawah guyuran air. “Bokongmu merah cantik. Kamu memang dibuat untuk dientot, Riska. Lihat… memekmu menggigit kontolku erat sekali.”
Ia meraih rambut Riska, menariknya ke belakang sambil terus mengentot. Tangan satunya turun ke depan, menggosok klitoris Riska dengan cepat.
Riska tak kuasa lagi. Tubuhnya menegang hebat. “Pak… aku… aku mau… aaaahhhhh!!” Ia orgasme pertama kali dalam hidupnya. Memeknya berdenyut kuat, cairan beningnya menyembur bercampur air shower, kakinya gemetar hebat hingga hampir ambruk.
Pak Hendra merasakan kontraksi memek Riska dan semakin buas. “Bagus… kamu keluar duluan. Sekarang giliran aku.” Ia menggenjot dengan hentakan-hentakan pendek dan sangat dalam selama beberapa menit lagi.
“Aku mau isi memekmu lagi… terima sperma kedua, Riska!” Dengan erangan panjang, Pak Hendra menyemburkan sperma panasnya yang banyak ke dalam rahim Riska untuk kedua kalinya. Jet demi jet cairan kental memenuhi memek gadis itu hingga meluber dan tercampur air shower, mengalir turun ke paha Riska.
Mereka berdua terengah-engah di bawah shower. Pak Hendra masih menempel di belakang Riska, kontolnya masih setengah di dalam memek yang penuh.
Kenapa aku orgasme… aku diperkosa… tapi rasanya begitu kuat… aku benci diri sendiri… Riska menangis diam-diam, air mata bercampur air shower.
Pak Hendra mencium bahu Riska pelan, lalu berbisik, “Ronde kedua selesai. Tapi hari ini masih panjang. Malam nanti, setelah makan malam, aku mau kamu datang ke kamarku pakai hanya apron saja. Mengerti?”
Riska hanya mengangguk lemah. Apa yang akan terjadi selanjutnya… aku sudah tak punya kekuatan untuk melawan…
Pak Hendra mematikan shower dan tersenyum puas. “Mandilah bersih. Besok pagi kita lanjut lagi sebelum aku ke kantor.”
ns216.73.216.204da2


