Aku masih ingat betul hari itu, saat aku berdiri di depan cermin besar di kamar apartemen mewah ini, memandang bayanganku sendiri dengan senyum yang tak bisa kuhentikan. Usiaku baru 26 tahun, tapi hidupku sudah terasa seperti mimpi yang terlalu sempurna untuk jadi kenyataan. 7729Please respect copyright.PENANAVC4XNdZ1f3
Namaku Alex, dan setahun lalu, tepat setelah wisuda S2-ku di bidang manajemen bisnis, aku menikah dengan Tya—wanita yang kini berusia 21 tahun, cantik luar biasa, dan mewariskan segalanya padaku. Kami menikah muda, terlalu muda menurut standar banyak orang, tapi bagi kami, itu adalah keputusan yang tepat. Birahi kami berdua seperti api yang tak pernah padam, dan kami tak ingin menunggu lagi.
Semuanya dimulai tiga bulan sebelum pernikahan. Aku bertemu Tya di sebuah acara kampus yang diadakan oleh perusahaan keluarganya. Dia anak tunggal dari pasangan kaya raya. Ayahnya orang Jerman yang sukses di bisnis properti, ibunya asal Sulawesi Utara yang cantik dan anggun. Tya lahir dan besar di Eropa—dari SD sampai SMA dia tinggal di Jerman, belajar di sekolah internasional, dan baru kembali ke Indonesia saat ayahnya memutuskan memperluas bisnis ke tanah air. Kulitnya putih susu seperti susu kental, rambut hitam panjang yang bergelombang lembut sampai punggung, mata sipit yang selalu penuh godaan, dan tubuh yang... ah, tubuh itu. 7729Please respect copyright.PENANAmQL8axMIkK
Payudaranya kencang dan montok, pinggang ramping, pinggul lebar, dan bokong yang bulat sempurna. Saat pertama kali aku melihatnya di pesta itu, dia mengenakan gaun hitam ketat yang memeluk setiap lekuk tubuhnya. Aku langsung jatuh hati—bukan hanya karena kecantikannya, tapi karena caranya tersenyum, caranya bicara dengan percaya diri, dan caranya menatapku seolah aku adalah satu-satunya pria di ruangan itu.
Kami pacaran hanya tiga bulan. Singkat, tapi intens. Setiap pertemuan berakhir dengan ciuman panas di mobil, tangan kami saling meraba di bawah meja restoran, dan akhirnya, di kamar hotel mewah yang kubayar dengan tabunganku yang hampir habis. Malam pertama kami bercinta adalah ledakan. Tya bukan perawan—dia sudah punya pengalaman dari masa remajanya di Eropa—tapi birahinya sebanding denganku. Aku ingat betul bagaimana dia mendorongku ke tempat tidur, melepas gaunnya dengan satu gerakan, dan berdiri di depanku hanya dengan bra hitam renda dan celana dalam tipis. 7729Please respect copyright.PENANAoEjOhVBe7p
"Aku sudah basah banget dari tadi, Alex," bisiknya dengan suara serak, matanya berkilat penuh nafsu. Aku tak tahan. Kontolku sudah mengeras sejak dia melepas gaun itu. Aku menariknya ke pangkuanku, mencium lehernya yang harum, dan tanganku meremas payudaranya yang kenyal. Putingnya langsung mengeras di telapak tanganku. Dia menggoyang pinggulnya, menggesekkan memeknya yang sudah licin ke batang kontolku yang menegang di balik celana.
Kami tak butuh foreplay lama. Tya melepas bra-nya, membiarkan payudaranya yang putih dan besar bergoyang bebas di depan wajahku. Aku langsung mengulum puting kirinya, menghisap kuat sambil jari tengahku menyusup ke celana dalamnya. Memeknya panas, basah, dan ketat. 7729Please respect copyright.PENANAbtRUnemIEu
"Masukin sekarang, sayang," erangnya. 7729Please respect copyright.PENANA9TiOyQMBl4
Aku tak perlu disuruh dua kali. Aku membalik tubuhnya, menelentangkannya di kasur, melepas celanaku, dan menancapkan kontolku yang sudah berdenyut-denyut ke dalam lubang vaginanya yang licin. 7729Please respect copyright.PENANAKV1smd7yXb
"Ahhh... besar banget, Alex!" jeritnya. 7729Please respect copyright.PENANAp8hyBTEohP
Aku menggenjotnya pelan dulu, menikmati setiap inci dinding memeknya yang mencengkeram kontolku seperti tangan hangat yang basah. Gerakanku semakin cepat, suara benturan tubuh kami memenuhi kamar. 7729Please respect copyright.PENANAacEudagT9F
Tya mengangkat pinggulnya, menyambut setiap hunjaman. Kami mencapai klimaks bersamaan—aku menyemburkan sperma panas ke dalam rahimnya sementara tubuhnya kejang-kejang orgasme.
Itu malam pertama dari ratusan malam yang serupa. Setelah menikah, kami sepakat tak buru-buru punya anak. 7729Please respect copyright.PENANAcuhKQ73zbn
"Aku masih mau kuliah S1 dulu, sayang. Dan kamu baru ambil alih perusahaan Papa. Biar kita bebas dulu," katanya sambil tersenyum nakal di malam pernikahan kami. 7729Please respect copyright.PENANAYcly0BuGgZ
Aku setuju sepenuh hati. Kehidupan seks kami seperti pertempuran setiap malam. Hampir tak ada hari tanpa "bertempur". Biasanya dimulai jam 10 malam, setelah makan malam romantis atau sekadar nonton film di sofa. Tya selalu inisiatif. Dia akan mendekatiku hanya dengan kaus longgar tanpa bra, payudaranya bergoyang-goyang di balik kain tipis, dan tangannya langsung meraih kontolku di balik celana pendekku. 7729Please respect copyright.PENANAATB5u9sfRX
"Birahiku tinggi banget hari ini," bisiknya sambil menggigit telingaku.
Pertempuran itu selalu tiga babak. Babak pertama: foreplay liar di ruang tamu atau langsung di kamar. Aku suka menjilat memeknya sampai dia orgasme pertama—lidahku menari di klitorisnya yang kecil dan sensitif, dua jariku memompa di dalam lubangnya yang selalu basah. Tya suka mengulum kontolku dalam-dalam, tenggorokannya yang hangat memijat kepala kontolku sampai aku hampir jebol. Babak kedua: penetrasi.7729Please respect copyright.PENANARyH4ue2Fyw
Posisi favoritnya cowgirl—dia naik di atasku, pinggulnya berputar-putar seperti mesin, memeknya memeras kontolku dengan gerakan memutar yang bikin aku gila. Payudaranya bergoyang di depan wajahku, aku remas dan hisap putingnya. Babak ketiga: klimaks bersama. Biasanya aku balik posisi, genjot dia di doggy style atau missionary sambil memegang pinggulnya yang lebar. Sperma aku tembakkan ke dalam memeknya, atau kadang di mulutnya kalau dia minta. Setelah itu, kami kelelahan, pelukan erat, dan tidur pulas sampai pagi.
Keuangan kami tak pernah jadi masalah. Ayah Tya meninggal setahun sebelum pernikahan kami karena serangan jantung mendadak. Sebagai menantu tunggal, aku mewarisi perusahaan properti dan kontraktor yang besar itu. Kantor pusat di tengah kota Jakarta, tapi kami memilih tinggal di apartemen penthouse di kawasan elite, hadiah pernikahan dari almarhum ayahnya. Rumah mewah di pinggir kota kami biarkan kosong—terlalu sepi, terlalu jauh dari kantorku. 7729Please respect copyright.PENANAaMKDwSlq1f
Apartemen ini sempurna: dua kamar tidur besar, ruang keluarga luas dengan TV 75 inci, dapur modern, dan balkon yang menghadap skyline kota. Kami tak punya pembantu; semua urusan rumah tangga kami kerjakan berdua. Tya sibuk kuliah S1 di universitas swasta ternama, aku sibuk meeting dan mengelola proyek. Tapi malam selalu milik kami.
Hingga suatu hari, semuanya berubah.
Itu tiga bulan setelah pernikahan. Mertuaku—ibu Tya, yang kami panggil Mami—memutuskan pindah ke apartemen kami. Suaminya sudah meninggal, rumah besar mereka di pinggir kota dikontrakkan.7729Please respect copyright.PENANAAYhxvoiNjr
"Aku ingin bantu kalian berdua," katanya saat menelepon Tya. 7729Please respect copyright.PENANASLAImClrEL
"Kalian berdua sibuk, nggak ada pembantu. Mami bisa masak, cuci, bersihin rumah. Lagian, Mami kesepian di rumah sendirian." 7729Please respect copyright.PENANAt3nCOTD2xF
Tya, yang memang anak manja dan sangat dekat dengan Mami, langsung setuju. Aku tak bisa protes. Bagaimanapun, Mami adalah ibu mertuaku, dan dia baru berusia 40 tahun—masih sangat muda untuk janda.
Aku ingat hari kedatangan Mami dengan jelas. Mobil van mewah mengantar barang-barangnya. Mami turun dari mobil dengan senyum lebar. Tubuhnya... Tuhan, aku tak pernah benar-benar memperhatikannya sebelumnya, tapi hari itu aku terpana. Dia mirip Tya tapi versi yang lebih matang. Kulit putih susu sama, rambut hitam panjang yang diikat ponytail, wajah masih kencang tanpa keriput berarti. 7729Please respect copyright.PENANAlHZcObayDd
Payudaranya besar dan tegak—lebih besar dari Tya—pinggulnya lebar, dan bokongnya... bokong itu yang paling sering menarik perhatianku kemudian. Bulat, menonjol, dan bergoyang pelan setiap dia berjalan. Dia mengenakan blouse putih longgar dan celana jeans ketat yang menonjolkan lekuk tubuhnya. 7729Please respect copyright.PENANAvwFnRh1Fmh
"Halo, Alex sayang," sapanya sambil memelukku erat. Aroma parfumnya manis, campuran vanila dan sesuatu yang menggoda.
Kami menyiapkan kamar tamu untuknya, tepat di sebelah kamar utama kami. 7729Please respect copyright.PENANARinLgTmgz3
"Mami nggak mau ganggu kalian berdua kok," katanya sambil tertawa. Tapi sejak hari pertama, kehidupan privat kami mulai terganggu—bukan dalam arti buruk, tapi... berbeda.
Pagi pertama Mami tinggal, aku bangun lebih dulu. Tya masih tidur pulas setelah "pertempuran" malam tadi. Aku keluar kamar hanya memakai boxer pendek, kontolku masih agak tegang karena mimpi basah. Di dapur, Mami sudah sibuk. Dia mengenakan kaus longgar tipis tanpa bra—aku bisa melihat putingnya yang gelap dan mengeras tercetak jelas di balik kain putih. Bokongnya yang besar bergoyang saat dia mengaduk telur di wajan. 7729Please respect copyright.PENANAuppudGYS0E
"Pagi, Alex. Sarapan dulu yuk, Mami sudah masakin nasi goreng spesial," katanya tanpa menoleh. Aku duduk di meja makan, berusaha tak menatap terlalu lama. Tapi mataku tertarik. Payudaranya bergoyang-goyang saat dia bergerak, dan saat dia membungkuk mengambil piring, celana pendeknya naik sedikit, memperlihatkan garis bokongnya yang mulus.
Tya bangun tak lama kemudian. Dia keluar kamar dengan hanya bra dan celana dalam, seperti biasa di rumah. Dulu, dia tak pernah segitu terbuka kalau ada orang lain. Tapi sekarang, dengan Mami, dia santai saja. 7729Please respect copyright.PENANAOEFZhYn1BN
"Pagi, Mam!" serunya sambil memeluk Mami dari belakang. Mami tertawa dan mencium pipi anaknya. Mereka berdua terlihat begitu dekat, begitu... bebas.
Hari-hari berikutnya, suasana di apartemen semakin santai. Mami banyak membantu. Dia masak pagi, siang, malam. Cuci baju, bersihkan lantai, bahkan setrika kemejaku. Aku dan Tya bisa fokus kerja dan kuliah. 7729Please respect copyright.PENANAdV3CBqjO4m
Tapi ada yang berubah pelan-pelan. Mami sering keluar kamar mandi hanya dengan handuk kecil di pinggang bawah, bagian atas hanya bra hitam yang kelihatannya kekecilan. Payudaranya hampir meluap dari cup bra itu. Dia lalu sibuk di dapur, mencuci piring, atau bahkan duduk di ruang keluarga nonton TV bersama kami. Putingnya jelas terlihat, dan saat dia tertawa, payudaranya bergoyang menggoda.
Awalnya aku malu. Aku berusaha tak melirik. Tapi lama-lama, aku tak bisa menahan. Mami cantik. Tubuhnya subur tapi proporsional—perut rata, paha tebal yang mulus, dan bokong yang selalu membuat kontolku berdenyut kalau dia membungkuk. Tya tak pernah protes. Malah, dia ikut-ikutan. 7729Please respect copyright.PENANAdQ3qgYWnwZ
Dulu Tya paling banter hanya bra dan celana dalam di rumah. Sekarang, dia sering hanya memakai celana dalam saja, payudaranya yang kenyal bergoyang bebas saat dia jalan ke dapur atau duduk di sofa. 7729Please respect copyright.PENANAYwmmg5hWFa
"Lebih nyaman gini, sayang," katanya saat aku tanya. 7729Please respect copyright.PENANATS1X36gVyO
"Di Eropa dulu, kami biasa begini di rumah. Mami juga. Nggak ada yang aneh."
Aku mulai ikut menyesuaikan. Awalnya ragu, tapi setelah seminggu melihat mereka bertelanjang dada santai, aku berani hanya pakai cawat tipis di rumah. Kontolku yang panjang dan tebal kadang setengah tegang kalau melihat Mami. Tapi Mami tak bereaksi aneh. Dia bahkan tersenyum saat melihatku. 7729Please respect copyright.PENANAT9LPZs7PpU
"Santai aja, Alex. Ini rumah kita. Nggak perlu malu-malu," katanya suatu sore saat kami bertiga di ruang keluarga. Aku duduk di sofa hanya bercawat, kontolku agak menonjol. Mami duduk di sebelahku, hanya bra dan celana dalam, payudaranya hampir menyentuh lenganku.
Tya semakin berani. Malam itu, setelah makan malam, kami nonton TV bertiga. Tya mendekatiku, tangannya langsung merayap ke cawatku. 7729Please respect copyright.PENANAhs2Zoi3Hgo
"Sayang... aku pengen," bisiknya di telingaku. Dia melepas cawatku, kontolku langsung tegak mengeras di depan Mami. Aku gugup, tapi Tya tak peduli. Dia menunduk, mengulum kontolku dalam-dalam di depan ibunya. Suara isapannya basah dan keras. Mami hanya tersenyum, matanya tak lepas dari layar TV, tapi sesekali melirik. 7729Please respect copyright.PENANA9i1YTYQEXK
"Mami, Tya lagi nakal nih," kataku setengah bergurau. Mami tertawa pelan. 7729Please respect copyright.PENANAP6w7J5Q1iv
"Biarkan saja, Alex. Mami ngerti kok kalian muda-muda lagi mesra."
Situasi semakin panas. Tya naik ke pangkuanku, memeknya yang sudah basah menelan kontolku pelan-pelan. Dia menggenjotku di sofa, erangannya memenuhi ruangan. Payudaranya bergoyang di depan wajahku. Aku remas-remasnya, menghisap putingnya. Mami masih duduk di sebelah, kakinya disilang, tapi matanya sekarang tertuju pada kami. Dia tak berkata apa-apa, tapi napasnya agak berat. Saat aku hampir klimaks, Mami berkata pelan, 7729Please respect copyright.PENANAy0LlONNE4I
"Sudah, masuk kamar dulu. Jangan di sini terus."
Tya menyeretku ke kamar, tapi pintu tak ditutup rapat. Kami langsung ke tempat tidur. Tya naik di atasku, memeknya menggenjot kontolku dengan liar. Aku memegang pinggulnya, mendorong ke atas. Tiba-tiba, Mami muncul di pintu. Dia bersandar di kusen, tangan di pinggang, memandang kami. 7729Please respect copyright.PENANAasMWrlVqVj
"Gerakannya jangan gitu, Tya," katanya tiba-tiba. Suaranya tenang, seperti guru yang mengajar. Tya berhenti sejenak. Mami mendekat. 7729Please respect copyright.PENANA3Bymz7ul7L
"Pinggulnya harus memutar, sayang. Begini." Dia memegang pinggul Tya dari belakang, membimbing gerakannya. Aku merasakan perbedaannya langsung—kontolku dipelintir-pelintir di dalam memek Tya. Nikmat luar biasa.
Tapi Tya masih bingung. Dia mencoba, tapi tak konsisten. Mami menghela napas. 7729Please respect copyright.PENANAp9gdBpTxTs
"Minggir dulu, Tya. Biar Mami tunjukin." Tya patuh, turun dari tubuhku dan duduk di samping. Aku terpana. Mami sudah telanjang bulat. Payudaranya besar dan tegak, puting cokelat gelap mengeras. Memeknya dicukur rapi, bibirnya tebal dan sudah basah berkilau. Dia naik ke tempat tidur, duduk di atas kontolku yang masih basah oleh cairan Tya. Dengan satu gerakan, dia menancapkan kontolku ke dalam vaginanya yang panas dan licin. 7729Please respect copyright.PENANAPoSgvqNWOf
"Ahhh..." erangnya pelan. Lalu dia mulai bergerak—memutar pinggulnya dengan sempurna, konstan, kuat. Kontolku seperti dipijat oleh dinding vaginanya yang ketat. Setiap putaran membuat kepala kontolku bergesekan dengan titik G-nya.
Aku lupa diri. Tanganku meraih payudaranya yang besar, meremas-remas, memilin putingnya. Mami tersenyum, matanya setengah terpejam. 7729Please respect copyright.PENANAoTQuS3CJmD
"Enak kan, Alex? Mami ajarin Tya biar kalian berdua puas." Gerakannya semakin cepat. Aku tak tahan. Tanpa aba-aba, aku menyemburkan sperma panas ke dalam rahimnya, banjir deras. Mami terus memeras kontolku dengan otot vaginanya sampai aku lemas. 7729Please respect copyright.PENANACqR3i7JKj5
Kontolku keluar dengan suara "plop" .
Tya komplain, 7729Please respect copyright.PENANAeB9pi5SKpm
"Yaa Mami kok dihabisin sendiri! Aku tadi nanggung!" Mami tertawa lembut, mencium kening anaknya.7729Please respect copyright.PENANAqS8CIRwobF
"Tenang, sayang. Mami ajarin cara bangunin lagi." Tanpa malu, Mami menunduk, mengulum kontolku yang masih lembab. Lidahnya menari di kepala kontol, menjilat sisa sperma dan cairan Tya. Suara seruputannya menggema. Dia memposisikan diri nunging di depan wajahku, memeknya yang basah digosok-gosokkan ke mulutku. Aroma manisnya memabukkan. Aku tak tahan—lidahku menjulur, menjilat klitorisnya. Dalam 10 menit, kontolku tegak lagi, keras seperti batu.
Mami bangkit, memberi ruang ke Tya. Sekarang Tya mencoba gerakan memutar itu. Dia mahir cepat. Memeknya memeras kontolku, dia orgasme pertama dalam hitungan menit, erangannya panjang. Aku balik posisi, genjot dia di missionary. Tya orgasme lagi dua kali berturut-turut, tubuhnya kejang. 7729Please respect copyright.PENANAxj9dBB2Hpf
"Sudah-sudah, kasihan dia kecapaian," kata Mami. Aku cabut kontolku yang masih garang. Mami mendorongku telentang lagi. Dia naik, memeknya menelan kontolku lagi. Kali ini dia lebih liar—putaran mautnya bikin aku mengerang. Mami orgasme dulu, tubuhnya ambruk di dadaku, vaginanya mencengkeram kontolku seperti tangan. 7729Please respect copyright.PENANAIzJpgACS3k
Aku balik posisi, genjot dia dari atas. Aku temukan titik lemahnya—gerakan pendek dan dalam. Mami orgasme lagi, dan kali ini bersamaan denganku. Sperma aku tembakkan sedalam mungkin ke dalamnya.
Kami bertiga ambruk di tempat tidur, napas ngos-ngosan. Tya memelukku erat dari satu sisi, Mami dari sisi lain.7729Please respect copyright.PENANAUB2LzUOaQM
"Kamu hebat, Alex," bisik Tya. Aku tak percaya ini nyata. Malam itu kami tidur bertiga, telanjang bulat di bawah selimut.
Pagi harinya, aku bangun dengan payudara Mami di dada kananku dan Tya di kiri. Sperma kering di sprei. Kami mandi bertiga di kamar mandi besar—saling sabun, saling sentuh. Tak ada lagi pakaian di rumah. Sarapan telanjang, seharian telanjang. Tya mengentotiku di sofa depan Mami. Mami bergabung kapan pun dia mau. Aku punya dua istri sekarang—anak dan ibu—di satu ranjang.
Tapi di hatiku, ada pertanyaan: kenapa Tya tak cemburu? Kenapa ini terasa begitu alami bagi mereka?
Itu baru permulaan. Kehidupan erotis kami baru saja dimulai, dan apartemen ini menyimpan rahasia yang semakin panas setiap hari...
ns216.73.217.31da2


