Namaku Johan. Usia 21 tahun. Ayah dan ibuku sudah lama tak sanggup lagi membiayai hidup kami, jadi sejak kecil aku dibesarkan oleh Bibi Lita dan Paman Rohman. Mereka bukan sekadar wali — mereka adalah segalanya bagiku. Mandi, makan, tidur, bahkan pelajaran hidup, semua dari mereka.
Bibi Lita sudah punya dua anak. Yang pertama Yudi, enam tahun. Yang kedua masih bayi, baru sembilan bulan, masih menyusu. Rumah kami kecil, sempit, dan tak ada sekat yang benar-benar rapat. Aku sudah terbiasa melihat Bibi Lita menyusui bayinya di depan televisi, sambil duduk santai di ruang tamu bersama aku dan Paman. Payudaranya yang besar, penuh, dan selalu penuh ASI itu tak pernah ia tutupi sepenuhnya. Kulitnya yang kuning langsat, putingnya yang gelap dan tebal, kadang meneteskan cairan putih bening saat bayi sedang tak menyusu. Aku selalu berusaha biasa saja. Tapi diam-diam, sejak remaja, pemandangan itu sudah meninggalkan bekas yang dalam di kepalaku.
Pagi itu, suasana rumah terasa berbeda.
Paman Rohman biasanya sudah bangun sebelum subuh untuk shalat di masjid. Tapi hari ini jam tujuh pagi dia masih belum keluar kamar. Yudi, anak sulungnya, bermain di lantai sambil berkata polos, “Papah belum bangun, Om. Katanya dingin, gak pakai baju.”
Aku tersenyum tipis. Aku sudah dewasa. Aku tahu persis apa yang terjadi di balik pintu kamar itu semalam.
Tak lama kemudian pintu kamar terbuka. Paman keluar bertelanjang dada, handuk hanya melilit pinggang. Tubuhnya masih berkilau keringat. Ia melewatiku tanpa banyak bicara, “Baru bangun, Johan. Libur hari ini.”
Pintu kamar tak tertutup sempurna.
Aku tak tahan. Rasa penasaran yang sudah lama kutahan akhirnya menang. Aku melirik ke dalam. Dan jantungku langsung berdegup kencang.
Bibi Lita sedang duduk di tepi ranjang, hanya berselimut tipis yang hampir melorot. Bayinya sedang menyusu lahap di payudara kirinya. Tubuh Bibi telanjang di balik selimut itu. Leher dan dadanya penuh tanda merah bekas hisapan dan gigitan. Payudaranya yang besar bergoyang pelan setiap kali bayi menarik putingnya. Susu yang menetes dari payudara kanannya yang tak terhisap mengalir pelan di kulitnya yang mulus.
Aku tak bisa berpaling.
Tak lama, Paman keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk. Ia sengaja tak menutup pintu kamar. Bibi Lita bangkit untuk menutupnya, dan sesaat selimut itu melorot sepenuhnya. Tubuh telanjangnya terpampang jelas di mataku: pinggang ramping, perut yang masih agak lembek karena dua kali melahirkan, dan — yang paling membuat kontolku berdenyut — bulu kemaluannya yang hitam lebat, lebat sekali, menutupi seluruh bukit memeknya yang montok.
Ia cepat menutup pintu, tapi terlambat. Aku sudah melihat semuanya.
Siang harinya, matahari terik. Aku sedang membersihkan rumput di halaman depan, keringat membasahi kaos dan celana pendekku. Bibi Lita keluar menggendong bayinya sambil menyusui. Payudaranya yang kanan terbuka lebar, putingnya basah dan mengkilap.
“Johan, nanti sore aja kerjanya. Panas banget ini,” katanya lembut.
Aku melepas kaosku karena gerah. Tubuhku yang tegap karena kerja kuli bangunan terpapar sinar matahari. Otot dada dan perutku yang penuh bulu halus berkilau.
Bibi Lita memandangku lama. “Kamu sudah besar ya… dulu Bibi mandikan kamu, bulu-bulu kamu masih jarang. Sekarang… sudah kayak laki-laki dewasa beneran.”
Senyumnya manis, tapi matanya ada sesuatu yang lain. Aku merasa kontolku mulai mengeras di balik celana.
Malamnya, setelah shalat Isya, gairahku sudah tak tertahankan. Sudah berjam-jam kontolku tegang tanpa henti. Aku masuk kamar, mengunci pintu, dan langsung menurunkan celana. Batangku yang tebal dan berbulu lebat berdiri tegak, ujungnya sudah basah oleh cairan bening.
Aku mengocoknya pelan dulu, membayangkan tubuh Bibi Lita yang telanjang tadi pagi. Bayangan bulu kemaluannya yang lebat, payudaranya yang penuh ASI, tanda merah di lehernya… Aku semakin cepat. Erangan kecil keluar dari mulutku.
Tiba-tiba pintu kamarku terbuka pelan.
“Johan…?”
Bibi Lita berdiri di ambang pintu, mata membelalak melihat aku yang sedang mengocok kontolku dengan penuh nafsu.
Aku buru-buru menutup dengan selimut, wajahku panas.
Tapi Bibi tak pergi. Malah ia masuk, menutup pintu di belakangnya, dan mendekat.
“Kamu… sering begini?” tanyanya suaranya pelan, hampir bergetar.
Aku mengangguk malu. “Maaf, Bi… 3-4 kali seminggu.”
Ia duduk di pinggir kasurku. Napasnya terasa berat. “Bibi… bisa bantu kamu. Tapi cuma gesek-gesek saja ya. Jangan dimasukkan.”
Hatiku meledak.
Bibi Lita berdiri, melepas daster tidurnya. Tubuh telanjangnya yang montok terpapar sempurna di depanku. Payudaranya yang besar bergoyang berat, putingnya sudah mengeras. Bulu hitam lebat di antara pahanya terlihat mengilap sedikit basah.
Ia naik ke atas kasur, duduk di atas pangkuanku. Vagiannya yang panas dan basah langsung menempel di batang kontolku yang masih terbungkus celana dalam. Ia mulai menggesek pelan ke atas-bawah.
“Uhh… Bi…” erangku.
Basahnya memek Bibi langsung meresap ke celanaku. Aroma khas wanita yang sudah bergairah memenuhi udara kamar. Aku tak tahan lagi.
“Bi… boleh aku buka celanaku?”
Ia ragu sebentar, lalu mengangguk. “Tapi janji ya… jangan dimasukkan.”
Aku langsung menurunkan celana dalamku. Kontolku yang tebal dan berbulu lebat melompat keluar, langsung menyentuh bulu jembut Bibi yang sama-sama lebat. Gesekan bulu dengan bulu itu membuat kami berdua mendesah.
Bibi Lita mulai menggoyangkan pinggulnya lebih cepat. Memeknya yang licin menggesek seluruh batang kontolku. Kepala kontolku berkali-kali hampir masuk ke lubangnya yang panas, tapi ia selalu mengangkat sedikit.
“Ahh… enak sekali, Johan…” desahnya, matanya sayu.
Aku tak tahan. Aku memeluk pinggangnya yang lembut, menariknya lebih dekat, dan mencium bibirnya dengan liar. Lidah kami saling bertaut. Tangan kananku meremas payudaranya yang penuh, menyemprotkan sedikit ASI yang hangat ke telapak tanganku.
Tiba-tiba Bibi Lita mengangkat pinggulnya sedikit lebih tinggi… lalu menurunkannya pelan.
Kepala kontolku masuk.
“Hahh…!” erang kami berdua bersamaan.
Ia hanya memasukkan kepala saja, lalu menggoyang-goyang memeknya di sana. Tapi aku sudah gila. Dengan sekali dorongan kuat, seluruh batang kontolku yang tebal masuk sepenuhnya ke dalam memek Bibi Lita yang basah dan panas.
“Aaahhh! Johan… kamu…!” pekiknya setengah marah, setengah keenakan.
Tapi pinggulnya justru menekan lebih dalam. Memeknya yang berbulu lebat menggenggam kontolku erat sekali. Aku mulai menggenjotnya pelan dulu, lalu semakin cepat.
Plok… plok… plok…
Suara daging bertemu daging memenuhi kamar kecil itu. Payudaranya yang besar bergoyang-goyang di depan wajahku. Aku menyedot puting kirinya kuat-kuat. ASI hangat, manis, dan sedikit anyep langsung menyembur ke tenggorokanku.
“Oohh… enak… hisap lagi, Johan…!” erang Bibi Lita sambil menggoyang pinggulnya liar.
Aku membalik posisinya. Sekarang ia di bawah, kakiku menindihnya. Aku menggenjotnya habis-habisan. Kontolku menghunjam dalam-dalam, berulang kali menyentuh dasar memeknya.
Tiba-tiba tubuh Bibi Lita mengejang. Memeknya berdenyut-denyut hebat menggenggam kontolku.
“Aaahhh… Bibi keluar…!!”
Aku tak tahan lagi. Saat suara sepeda motor Paman terdengar di halaman, aku mendorong sekuat tenaga sampai pangkal.
BRUSSSHHH!!!
Semburan spermaku yang panas dan kental menyembur deras di dalam rahim Bibi Lita. Jet demi jet. Aku terus mendesah panjang sambil menyedot putingnya, mengisap ASI-nya sampai habis.
Bibi Lita hanya tersenyum lemah, tubuhnya gemetar menahan orgasme yang panjang. “Jangan bilang siapa-siapa ya…” bisiknya sambil mengelus rambutku.
Aku mencabut kontolku perlahan. Memeknya yang tadinya rapat sekarang menganga sedikit, campuran sperma putihku dan cairannya mengalir keluar dari bulu hitamnya yang basah.
Bibi Lita bangkit pelan, memakai dasternya lagi, lalu keluar kamar seolah tak terjadi apa-apa untuk menyambut Paman.
Celana dalam merah mudanya tertinggal di kasurku.
Aku ambil, kutekan ke wajahku, dan menghirup dalam-dalam aroma memek Bibi Lita yang masih tersisa.
Malam itu aku tidur dengan senyum puas.
Dan aku tahu… ini baru permulaan.
ns216.73.217.31da2


