Istriku memang bukan sekadar cantik. Ayasha itu seperti lukisan yang hidup: kulitnya halus bak kelopak teratai, matanya besar dengan bulu mata yang seolah-olah dicat Tuhan sendiri, dan bibirnya, ya Tuhan, bibirnya yang selalu merah muda itu membuatku ingin menggigitnya setiap kali ia tersenyum. Tapi yang paling membuatku gila adalah caranya berjalan. Seperti ada musik dalam langkahnya, seperti ia tahu betapa aku tergila-gila pada pantatnya yang montok itu bergoyang setiap kali ia melintas di depan televisi saat aku sedang nonton bola.
14447Please respect copyright.PENANA6ORA1zPMej
"Ayah, kok senyum-senyum sendiri?" tanyanya suatu malam ketika aku terbangun dari lamunan, tangannya sedang mengaduk soto di dapur. Aku hanya menggeleng, menatapnya dari belakang, memandangi cara blusnya ketat membentuk punggungnya, bagaimana rambut hitamnya yang panjang itu bergerak mengikuti gerakan bahunya.
14447Please respect copyright.PENANAiIgA9flJlI
"Nggak, cuma mikir betapa aku beruntung punya istri yang jago masak," jawabku sambil mendekat, mencium aroma kemanginya yang selalu menempel di leher.
14447Please respect copyright.PENANAZfuIUzQnU8
Tapi jangan salah. Di balik wajah solehahnya, jilbabnya yang rapi, caranya berbusana sopan di depan umum, Ayasha di ranjang itu seperti api. Aku tidak pernah perlu memintanya. Justru ia yang sering membangunkanku tengah malam dengan tangannya yang sudah merayap ke celanaku, atau mendorongku ke sofa ketika anak-anak sudah tidur, dengan tatapan yang bilang, *Aku mau sekarang*. Dan Tuhan tahu, aku tidak pernah bisa menolak. Caranya menggigit bibir bawahku, cara jarinya mencengkeram bahuku, seolah-olah ia takut aku akan hilang kalau tidak memegangku erat-erat.
14447Please respect copyright.PENANACM9cwhu0DU
Ada satu malam yang tidak akan pernah kulupa. Hujan deras, listrik padam, dan kami berdua terbangun karena bunyi petir. Dalam gelap, aku meraba mencari senternya, tapi yang kutemukan justru tangannya yang sudah meremas keras di celanaku. "Ayah nggak ngantuk kan?" bisiknya, dan sebelum sempat kujawab, mulutnya sudah menutup mulutku, lidahnya seperti ingin menelan seluruh nafasku.
14447Please respect copyright.PENANA7DUT9fAUrv
Di tengah deru hujan, dalam kegelapan yang hanya diterangi sesekali oleh kilat, kami seperti dua orang asing yang baru pertama kali bertemu, gila, lapar, tidak peduli apa pun selain kulit yang saling melekat.
14447Please respect copyright.PENANAF41VwNI7BM
---
Kilat berikutnya menyambar, membekaskan bayangan tubuh Ayasha yang melengkung di atasku, rambutnya yang basah oleh keringat terjuntai seperti tirai hitam, matanya setengah tertutup, bibirnya terbuka lebar oleh desahan. "Jangan berhenti," bisiknya, suaranya serak, tangannya mencengkeram pergelangan tanganku dengan kekuatan yang membuatku terkesima. Dalam kegelapan itu, kami seperti dua penari yang hafal setiap inci gerak tubuh satu sama lain, tanpa perlu melihat, tanpa perlu bicara.
14447Please respect copyright.PENANA9Qr2JnO7JO
Aku membalikkan posisinya dengan gerakan kasar yang membuatnya terengah-engah, punggungnya menekan kasur yang sudah basah oleh keringat kami.
14447Please respect copyright.PENANAFy0tTiz2IT
"Ayah..." rintihnya ketika lidahku menjelajahi lekuk lehernya, gigitanku yang keras di bahu membuatnya menjerit kecil. Tangannya meraba-raba di kegelapan, menemukan gagang jendela, mencengkeramnya erat ketika aku mendorong lebih dalam, kayu berderit bersamaan dengan desahannya.
14447Please respect copyright.PENANAJPB8wvrsI2
Posisi berganti lagi, kali ini dia yang di atas, menunggangiku dengan gerakan pinggul yang membuatku hampir kehilangan akal. Kilat menyambar lagi, dan untuk sesaat aku melihat wajahnya: dahi yang berkerut, alis yang naik turun mengikuti ritme kami, lidahnya yang menjilat bibir atasnya sendiri seperti kucing yang puas. "Aku mau..." bisiknya sebelum membungkuk, gigi-gigi kecilnya menggigit puting susuku, membuatku mendesah kasar. Tanganku meraih pantatnya, meremas keras, menikmati cara dagingnya mengisi celah jari-jariku.
14447Please respect copyright.PENANA5W6gEj0cit
Tiba-tiba ia berhenti bergerak, aku merasakan tubuhnya mengencang. "Ada yang..." bisiknya waspada. Suara langkah kaki di teras. Kami membeku, masih tersambung erat, nafas yang tersengal-sengal. Suara itu berlalu, hanya angin malam, atau mungkin kucing. Ayasha tertawa geli, suaranya seperti dering bel kecil sebelum ia menunduk, menciumku dalam-dalam sambil perlahan mulai bergerak lagi. "Dasar penakut," godaku, yang dijawab dengan cubitan keras di paha.
14447Please respect copyright.PENANAPvVkOc1ej0
Kami kehilangan hitungan berapa kali orgasme, berapa kali berganti posisi, di kursi berlengan, di lantai dengan karpet yang menggesek kulit, kembali ke ranjang ketika hujan mulai reda. Ketika fajar menyingsing dan listrik kembali menyala, kami tergeletak seperti bangkai, kulit yang lengket, rambut yang kusut, senyum yang lelah tapi puas. Ayasha memandangku dengan mata setengah tertutup, jarinya menelusuri bekas gigitan di bahuku. "Besok lagi?" bisiknya, dan sebelum sempat kujawab, ia sudah tertidur, kepalanya di dadaku, kakinya yang masih gemetar terselip di antara lenganku.
14447Please respect copyright.PENANAyQalrtIZuJ
___
14447Please respect copyright.PENANAxGVjqmrssh
Bekas gigitan itu masih terasa perih ketika air shower menyentuh kulit bahuku pagi ini, tiga hari setelah malam hujan itu, seperti tusukan jarum kecil yang terus mengingatkanku pada Ayasha. Aku melihat ke cermin kabin kamar mandi: dua lingkaran merah kecil dengan titik ungu di tengahnya, persis seperti tanda yang ditinggalkan vampir dalam film-film. "Aduh, lagi-lagi," gerutuku sambil mengusap handuk kasar ke luka itu, membuatku mendesis. Ayasha sudah berkali-kali bilang "Maafin Ayah ya?" dengan bibir menyunggingkan senyum bersalah palsu itu, yang selalu diikuti gerakan tangannya meremas pantatku atau mencubit perutku, seolah luka kecil ini adalah tiket untuk lebih banyak kelakar fisik.
14447Please respect copyright.PENANADSbka7DQ5p
Di meja makan, aroma nasi goreng bawang putih Ayasha memenuhi ruangan. Ia berdiri di belakangku, tangan-tangannya yang dingin tiba-tiba menempel di bahuku yang masih perih. "Masih sakit?" bisiknya, nafas hangatnya menggelitik telingaku sebelum lidahnya yang licin menyentuh bekas lukanya. Aku menggeleng, tapi tubuhku bergidik, rasanya seperti listrik kecil mengalir dari tempat lidahnya menyentuh kulitku yang sensitif. "Nggak, cuma..." Kalimatku terpotong ketika tangannya sudah merayap ke dalam kemejaku, jari-jarinya yang lentik menekan puting susuku yang tiba-tiba mengeras. "Cuma apa?" godanya sambil menggigit cuping telingaku, membuatku menahan napas.
14447Please respect copyright.PENANATKA582crpY
Kantor hari ini terasa berbeda. Setiap kali kemejaku bergesekan dengan luka itu, bayangan Ayasha muncul, wajahnya yang mendongak penuh napsu di kegelapan, tangan-tanamaninya yang mencengkeram sprei dengan kuku-kuku yang meninggalkan bekas di kulit pergelangan tanganku. Aku menyentuh bahuku lagi, kali ini di depan lift kantor, tidak sadar bahwa Reza sudah berdiri di sampingku dengan tas laptop di bahunya. "Luka perang?" tanyanya sambil menunjuk ke bahuku, matanya berbinar penuh arti. Aku tersipu tanpa sadar, Reza tahu. Tentu saja ia tahu.
14447Please respect copyright.PENANAZqagUOGujZ
"Istri lo emang galak ya," tambahnya sambil tertawa, tapi ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat perutku berdebar aneh, semacam pengakuan diam-diam bahwa ia juga pernah merasakan 'kegalakan' yang sama.
14447Please respect copyright.PENANASjyb9h4x7A
14447Please respect copyright.PENANArpkaBorNIF
Sepanjang jam kerja dan rapat, pikiranku mengawang: bagaimana bisa Reza langsung tahu kalau luka di bahu ini karena istri?
14447Please respect copyright.PENANAx6GNelqbFf
Pertanyaan itu tidak pernah terjawab hingga akhirnya jam makan siang. Aku sengaja mengajak Reza makan berdua, ke restoran masakan Padang di seberang kantor. Aku traktir dia. Setelah makan dengan sangat lahap, kami melipir sebentar ke Starbucks. Di jam makan siang ini, cafe ini sangat ramai tapi untungnya kami masih bisa dapat tempat duduk.
14447Please respect copyright.PENANASsqI3WVfNK
Di tengah perbincangan receh soal kantor, aku termenung kembali. Dan sekali lagi, aku memberanikan diri untuk bertanya ke Reza, "kok bisa tahu kalau luka di bahu ini karena istri?"
14447Please respect copyright.PENANAxcR3erGrcj
Asap rokok Reza melingkar-lingkar di udara antara kami, membentuk bayangan samar. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi Starbucks yang empuk, matanya menyipit seperti sedang memecahkan teka-teki lucu.
14447Please respect copyright.PENANARJ93pbyEmO
"Gua kan pernah punya pacar juga, dong," katanya sambil mengetuk-ngetuk abu rokoknya ke asbak kecil. Suaranya terlalu santai untuk sesuatu yang seharusnya tidak perlu dipertanyakan, dan justru itu yang membuatku menatapnya lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu di balik kelopak matanya yang setengah tertutup itu, semacam rahasia yang dengan sengaja dibiarkan setengah terbuka.
14447Please respect copyright.PENANAXlaxKyijEo
Aku mengangkat alisku saat ia menyeruput kopinya lagi, kali ini lebih dalam, seperti mencoba menenggelamkan sesuatu yang tidak ingin dikatakannya. "Pacar yang mana?" tanyaku sambil memainkan sendok di cangkirku yang sudah kosong. Reza hanya tersenyum, bukan senyum biasa, tapi senyum seseorang yang tahu lebih banyak dari yang ia ungkapkan. "Yang penting gua ngerti," jawabnya sambil menghela nafas, mengeluarkan asap dari hidungnya seperti naga dalam dongeng. Tangannya yang besar, lebih besar dari tanganku, memegang erat cangkir kopi, jari-jarinya mengetuk-ngetuk permukaannya dengan ritme yang anehnya sama persis dengan ketukan Ayasha di meja dapur tadi pagi.
14447Please respect copyright.PENANA6bUbnpjKRr
"Lo tau nggak," katanya tiba-tiba, matanya sekarang benar-benar menatapku, "kadang cewek itu nggak perlu lo ajari apa-apa. Mereka udah tau persis gimana caranya bikin lo..." Ia berhenti sejenak, mencari kata yang tepat, lidahnya menjilat bibir atasnya sendiri, gerakan yang terlalu familiar.
14447Please respect copyright.PENANAvnoDGmh61A
"Merem melek" lanjutnya akhirnya, dan aku merasakan sesuatu bergerak di perutku. Bukan karena kata-katanya, tapi karena caranya mengatakannya, seolah-olah ia sedang menggambarkan sesuatu yang sangat spesifik, sesuatu yang ia alami sendiri.
14447Please respect copyright.PENANAnEQSz6t0gz
Aku ingin menertawakannya, menggodanya tentang seberapa banyak pengalaman yang ia punya, tapi suara teleponku memotong pembicaraan. Ayasha. Foto profilnya muncul, wajahnya yang tersenyum dengan bibir merah muda yang basah oleh es krim, dan aku melihat mata Reza sekilas melihatnya sebelum ia berpaling, seolah-olah wajah itu terlalu terang untuk dilihat langsung. "Iya, Sayang?" jawabku, dan suara Ayasha di seberang sana seperti mengisi ruang antara kami berdua dengan kehangatan yang tiba-tiba. "Ayah pulang jam berapa nanti? Aku masak sop buntut kesukaan Ayah," bisiknya, dan aku bisa mendengar senyumnya melalui telepon.
14447Please respect copyright.PENANAT70JbbwB1h
Aku bilang, kalau pekerjaan hari ini agak banyak, dan mungkin akan pulang di atas jam 8 malam. Aku merasa bersalah menjawab itu, karena Ayasha terdengar menggerutu di telepon.
14447Please respect copyright.PENANA0jkS3NVKfb
Ketika aku menutup telepon, Reza sudah berdiri, merapikan kemejanya yang agak kusut. "Istri lo emang," katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala, tapi ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Matanya berpindah ke bahuku lagi, ke bekas gigitan yang sekarang sudah mulai menghilang, dan untuk sesaat, aku melihat sesuatu di matanya, bukan iri, bukan pula hasrat, tapi semacam pengakuan diam-diam bahwa ia juga pernah berada di tempatku. Atau mungkin, bahwa ia ingin berada di tempat lain sama sekali.
14447Please respect copyright.PENANAKp8ZtZZKSD
Tak lama, aku dan Reza pun bergegas dari Starbucks dan kembali ke kantor kami.
14447Please respect copyright.PENANAC8dz9PPQ8H
Kaki kami melangkah berbarengan di koridor kantor yang terlalu terang, seolah lampu neon itu sengaja menyoroti setiap ketidaknyamanan yang kurasakan.
14447Please respect copyright.PENANAfn2UFUeOJY
Reza berjalan sedikit di depanku, bahunya yang lebar menghalangi pandanganku saat ia tiba-tiba tertawa terlalu keras pada lelucon salah satu staf marketing, suara tawanya seperti paku yang menancap di tengkorakku. Aku memperhatikan caranya memasukkan tangan ke saku celana, sikap santainya yang terpaksa, seperti aktor yang lupa dialog tapi terus bermain peran.
14447Please respect copyright.PENANAYdpx6reU8h
Aku dan Reza pun melangkah ke ruangan kantor yang terpisah bersebelahan. Dia sibuk dengan pekerjaannya, dan aku lanjut rapat dengan jajaran direksi.
14447Please respect copyright.PENANAx4dmpau1Nr
Rapat siang itu jadi bencana. Presentasiku, yang biasanya lancar seperti air, tersendat-sendat seperti mesin tua. "Ardi, slide berikutnya?" suara Direktur Surya menggedor kesadaranku. Aku menatap layar kosong di proyektor, baru sadar sudah lima detik diam membisu. "Maaf, Pak. Sepertinya file-nya corrupt." Kebohongan itu terasa kental di lidahku.
14447Please respect copyright.PENANAyqjN0LnzKt
---
14447Please respect copyright.PENANAMrH0AKBwiy
Jam dinding di ruang rapat sudah menunjukkan pukul 7:23 ketika Direktur Surya akhirnya melemparkan berkas presentasi ke arahku. "Kerjaan apa ini, Ardi?!" Suaranya menggema di ruangan yang tiba-tiba sunyi. Aku melihat lembaran-lembaran kertas berhamburan di lantai, slide-slide yang semalam kubuat sampai larut, slide-slide yang seharusnya berisi analisis kredit kuartalan, tapi sekarang terlihat seperti coretan anak TK. Keringat dingin mengalir dari ketiakku, membasahi kemeja putih yang masih menempel bekas gigitan Ayasha.
14447Please respect copyright.PENANAbSBJ25niv3
"Maaf, Pak. Saya, "
14447Please respect copyright.PENANAtQ1PcIY7AO
"Sudah tiga jam kita di sini," potong Bu Lina dari HRD dengan suara datar. Matanya yang biasanya ramah sekarang dingin seperti es. "Dan kamu belum menjawab satu pertanyaan pun dengan jelas." Jari-jarinya yang selalu bercat merah menyentuh gelas air mineralnya, meninggalkan bekas samar di plastik bening.
14447Please respect copyright.PENANAdAWT9XuV71
Aku menelan ludah. Di luar jendela, langit Jakarta sudah gelap, hanya diterangi lampu-lampu gedung pencakar langit. Di antara siluet-siluet itu, bayangan Ayasha muncul lagi, wajahnya yang mendongak penuh napsu di kegelapan, tangan-tanamaninya yang mencengkeram sprei. "Saya akan revisi semuanya besok pagi," janjiku dengan suara serak.
14447Please respect copyright.PENANAMs5nbqkErq
Tapi Pak Surya sudah berdiri, jas Armani-nya yang mahal berkerut di bagian siku. "Besok?!" hardiknya. "Kau pikir kita punya waktu untuk 'besok'? Proyek ini deadline-nya jam 9 pagi!" Tangannya menunjuk ke kalender di dinding, tepat di tanggal yang sudah dikelilingi spidol merah.
14447Please respect copyright.PENANAEcLU1RlTQa
---
Pak Surya tak henti-hentinya marah. Hingga akhirnya ia menyuruhku untuk merampungkan kerjaan ini malam ini juga. Dan besok pagi harus sudah selesai. Belum sempat aku mengiyakan itu, Pak Surya dan semua direksi keluar ruangan tanpa sepatah katapun. Aku tidak bisa berbuat apa-apa.
14447Please respect copyright.PENANAyvWJRKhAbQ
Lelah dan tak berdaya membuatku menjatuhkan sekujur bahuku, membiarkannya terkulai di kursi yang dari tadi aku duduki dengan posisi kaku.
14447Please respect copyright.PENANA02AMw16Z2I
Kursi kulit hitam itu mendesah ketika tubuhku terjatuh ke dalamnya, seperti hewan kesakitan. Lampu neon di plafon berkedip-kedip, satu, dua kali, sebelum menyala penuh lagi, menyinariku dengan terang yang kejam.
14447Please respect copyright.PENANAMHxjaYykfv
Aku menutup mata, membayangkan aroma sop buntut Ayasha yang pasti sudah menguap sekarang. Jam di dinding menunjukkan pukul 7:47. Seharusnya aku sudah di rumah sejam yang lalu, seharusnya aku sedang menikmati kakinya yang dingin menyelip di antara pahaku saat kami nonton sinetron kesukaannya.
14447Please respect copyright.PENANAm0ti4cWLTN
Telepon di meja berdering. Ayasha. Aku mengangkatnya dengan jari-jari yang tiba-tiba gemetar. "Sayang, maaf, aku, "
14447Please respect copyright.PENANAA2BiOZpomQ
"Aku tahu," potongnya, suaranya lebih lembut dari yang kuharapkan. "Reza bilang kamu harus begadang." Ada jeda kecil di sana, cukup untuk membuatku membayangkan bibirnya yang merah muda itu menyentuh gagang telepon. "Aku antar makan malam ke kantor, ya?"
14447Please respect copyright.PENANAHI6eIuzQOi
Sebelum sempat kumenolak, garis telepon sudah mati. Aku menatap layar hitam itu, lidahku terasa seperti kertas pasir. Reza bilang. Dua kata itu mengambang di udara pengap ruang rapat, seperti asap rokok yang menolak menghilang. Kenapa Reza yang memberitahunya? Kapan mereka bicara? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalaku ketika aku menekan tombol lift untuk turun ke lantai pantry.
14447Please respect copyright.PENANAC16FOU0MII
Pantry kosong kecuali bau kopi yang sudah menggumpal di udara. Aku menuang air mineral ke cangkir kertas ketika suara langkah kaki membuatku menoleh. Reza berdiri di ambang pintu, tangan kanannya memegang dua kantong plastik berisi kotak styrofoam. "Dari Ayasha," katanya sambil mengangkatnya, senyum kecil mengembang di sudut bibirnya. Matanya, terlalu terang di bawah lampu fluoresens, menyimpan sesuatu yang membuat napasku tersendat.
14447Please respect copyright.PENANAigoXviHqJv
---
14447Please respect copyright.PENANAatNHqmMdql
Reza hanya meninggalkan kantong plastik itu di meja, tanpa sepatah kata penjelasan. Ia berbalik, langkahnya terlalu cepat untuk disebut santai, terlalu kaku untuk disebut wajar. Pintu pantry menutup dengan desis lembut, meninggalkan aku sendirian dengan aroma sop buntut yang mulai merembes keluar dari kotak styrofoam.
14447Please respect copyright.PENANACU48TuRryq
Aku tidak mengejarnya. Tidak bertanya. Ada semacam kelegaan aneh dalam keputusan untuk mengabaikan keanehan ini, seperti menarik selimut di hari dingin dan memilih untuk tidak memikirkan mengapa selimut itu terasa hangat sejak awal.
14447Please respect copyright.PENANAiwpXr1qWM2
Kotak makanan pertama kubuka, dan di balik kabut uap yang mengepul, ada potongan buntut sapi yang empuk dengan kuah bening berbintik lemak keemasan. Tanpa sadar, jari-jariku menyentuh bekas gigitan di bahu lagi, masih terasa perih ketika kemeja bergesekan.
14447Please respect copyright.PENANA6eUbhutbzf
Jam 9:17 malam. Kopi pertama sudah habis, meninggalkan noda kecoklatan di dasar cangkir kertas. Presentasi yang kurevisi mulai berbentuk, tapi setiap kali kumencet tombol save, bayangan Ayasha muncul, bibirnya yang menggigit sendok sop, matanya yang berbinar saat menceritakan resep baru. Aku menggeleng, memaksa diri untuk fokus pada spreadsheet yang terbuka di layar.
14447Please respect copyright.PENANAAqdnc09A7I
Lampu-lampu kantor lain sudah padam sejak jam 8. Hanya bilikku yang masih terang, seperti pulau kecil di tengah lautan gelap. Satpam, Pak Joko, sudah tiga kali melongok, wajahnya yang keriput menunjukkan campuran kekhawatiran dan kelelahan. "Masih lanjut, Pak Ardi?" tanyanya pada ronde ketiga, sambil menggeser sabuk pengaman yang digantungkan di pinggangnya. Aku hanya mengangguk, tangan kananku terus mengetik sementara tangan kiri menyendok sop yang sudah mulai dingin.
14447Please respect copyright.PENANAIt1KmRkdOj
,
14447Please respect copyright.PENANAFO7anwRW4b
Jam 11:53 malam, jari-jariku akhirnya berhenti menari di atas keyboard. Presentasi itu, yang tadi siang jadi bahan tertawaan direksi, sekarang tersimpan rapi dalam tiga format berbeda: PDF, PowerPoint, bahkan versi cetak yang sudah kususun di map hijau khusus. Aku mematikan laptop dengan gerakan lambat, seperti mengubur sesuatu. Ini pertama kalinya aku lembur sampai hampir tengah malam. Kantor sudah sepi, hanya dengungan AC yang sudah mulai batuk-batuk kecil di lorong.
14447Please respect copyright.PENANAkRNMeF3qsY
Bau kopi instan keempatku masih menyengat di bilik kerja. Kutelepon Ayasha dari telepon kantor, tapi tidak diangkat. Mungkin sudah tidur. Bekas gigitannya di bahuku terasa gatal ketika kemeja bergesekan. Aku menggaruknya tanpa sadar, meninggalkan garis merah tipis di kulit. "Nggak apa-apa," gumamku sendiri sambil mengunci laci meja, memastikan lampu-lampu sudah mati satu per satu. Suara langkahku bergema di koridor gelap, seperti orang asing yang tersesat.
14447Please respect copyright.PENANAIAyQjKsNhN
Aku berjalan agak cepat menuju ke parkir basement kantor. Suasananya begitu senyap, tapi keresahan hari ini sudah cukup untuk membuatku takut sendirian di basement ini.
14447Please respect copyright.PENANAbwIIdWtieZ
Mobil sedan putihku berdiri sendirian di pojokan parkiran basement. Kunci menyala dengan bunyi "klik" yang terlalu keras di keheningan malam. Begitu mesin hidup, radio langsung menyala dengan volume maksimal. Aku mematikan dengan gerakan kasar, meninggalkan kesunyian yang lebih menekan.
14447Please respect copyright.PENANAqKLCSL1Zv9
___
14447Please respect copyright.PENANAmLqKS9CfWK
Jam 12:17. Lampu merah di persimpangan Sudirman memancarkan cahaya sakit di retina yang sudah lelah. Jarum speedometer bergerak naik, 80, 90, 100, sebelum aku menginjak rem mendadak karena truk kontainer melintas di depan. Sop buntut Ayasha bergerak-gerak di perutku, rasa mual tiba-tiba muncul ketika aroma kopi keempat bercampur dengan bensin dari knalpot truk.
14447Please respect copyright.PENANA54CuhKpDnu
Aku menekan tombol jendela, menghirup udara Jakarta yang tak pernah benar-benar segar. Jari-jariku mengetuk-ngetuk setir dengan ritme yang sama seperti ketika Ayasha menggodaiku tadi pagi. *Dasar penakut*.
14447Please respect copyright.PENANAT0Gkf8KT3z
GPS di dashboard menunjukkan 12 menit lagi sampai rumah. Tapi rumah seperti apa yang akan kudapati? Lampu teras yang biasanya menyala kuning sudah padam ketika mobilku melintasi gerbang perumahan. Hanya cahaya bulan purnama yang menyinari pekarangan depan, memperlihatkan bayangan pohon jambu yang bergoyang pelan.
14447Please respect copyright.PENANACh4swMVCf0
Aku memarkir mobil dengan mesin masih bergetar halus, seperti kuda yang baru saja berlari kencang. Kunci rumah berderak, suara yang biasanya membuat Ayasha berteriak "Ayah pulang!" dari dapur. Malam ini hanya ada keheningan.
14447Please respect copyright.PENANADs5jjblMf9
Tas kerjaku kulempar ke sofa, suaranya terlalu keras di ruang keluarga yang gelap. Aroma sop buntut masih menggantung di udara, bercampur dengan sesuatu yang lain, semacam wewangian bunga yang tidak biasa. Aku menyalakan lampu kecil di meja makan, menyinari piring kotor yang masih tergeletak. Dua piring. Dua gelas.
14447Please respect copyright.PENANAORcEhpZbpy
14447Please respect copyright.PENANAJKxCxjAuke
---
14447Please respect copyright.PENANAYbiNkplvYq
Kaki ini terasa seperti tertanam di lantai kayu ketika aku menghitung kembali piring di meja makan, dua. Gelas pun ada, dua. Sendok yang masih basah oleh kuah sop, dua. Napasku tersangkut di tenggorokan seperti ikan berduri. "Ayah?" Suara Ayasha dari lantai atas mengiris kesunyian rumah, dari kamar tidur kami.
14447Please respect copyright.PENANAf8UnyRpLRf
Tangga kayu berderak di bawah langkahku yang berat, setiap anak tangganya seperti menarikku lebih dalam ke sesuatu yang sudah kuduga tapi takut akui. Aroma, oh Tuhan, aromanya, sudah menyergapku sebelum tanganku menyentuh gagang pintu kamar tamu.
14447Please respect copyright.PENANAglyFjwZFm6
Pintu terbuka dengan perlahan, seperti adegan horor murahan yang selalu kami tonton sambil tertawa. Tapi tidak ada yang lucu dari apa yang terpampang di depan mataku sekarang.
14447Please respect copyright.PENANAd4r9pW0m9V
Reza. Telanjang. Punggungnya yang berotot berkilat oleh keringat, bergerak dalam ritme yang terlalu akrab di antara paha Ayasha, istriku, yang terbuka lebar. Tangan Ayasha mencengkeram guling dengan kuku-kuku yang masih bercat merah muda pucat, sama seperti warna bibirnya yang tergigit saat orgasme.
14447Please respect copyright.PENANA90AtbHaPZp
Dan mereka tersenyum. Bukan senyum bersalah. Bukan senyum terkejut. Tapi senyum... penerimaan. Seperti aku adalah tamu yang diharapkan di pesta rahasia mereka.
14447Please respect copyright.PENANAHFKbcff2K7
Reza memandangku dengan mata setengah tertutup, bibirnya melengkung dalam senyum yang bukan permintaan maaf, tapi pengakuan. "Kita tungguin kamu pulang," katanya, suaranya serak, sementara pinggulnya masih bergerak pelan di antara paha Ayasha.
14447Please respect copyright.PENANAbr2dP7Iwbg
Aku melihat detil-detil yang tidak seharusnya kulihat: tetesan keringat di alis Reza yang jatuh ke pipi Ayasha, cara jari-jarinya mencengkeram pinggul istriku, begitu erat sampai meninggalkan bekas merah. Ayasha sendiri menungging dengan posisi yang membuatku teringat bagaimana ia biasanya merangkak ke arahku di pagi hari, tapi sekarang punggungnya melengkung untuk menerima Reza, bukan aku.
14447Please respect copyright.PENANAw0gbuyYj8d
"Sop buntutnya enak ga?" tanya Ayasha tiba-tiba, suaranya terengah tapi berusaha ringan, seperti kami sedang berbincang di meja makan. Bibirnya gemetar ketika Reza mendorong lebih dalam, membuat tubuhnya terguncang. Matanya, Tuhan, matanya, masih memandangku dengan tatapan yang dulu hanya untukku: hangat, lapar, meminta persetujuan.
14447Please respect copyright.PENANAKH3dICfDnE
Mulutku kering. Aku mencoba menelan, tapi tenggorokanku seperti dilapisi pasir. Kata-kata yang ingin kukatakan, "berhenti", "keluar", atau mungkin "bagaimana bisa", menguap menjadi desis nafas yang pendek.
14447Please respect copyright.PENANAx59GN9HOvK
Reza tertawa pendek, suaranya seperti gesekan kulit pada kulit. "Dia pasti lelah," bisiknya ke telinga Ayasha, tapi cukup keras untuk kudengar. Tangannya yang besar meraih pundakku, menarikku masuk ke dalam ruangan yang pengap ini. "Kamu tidur aja," ia menambahkan, seolah-olah ini adalah tawaran yang wajar, seperti membagikan tempat duduk di bus yang penuh.
14447Please respect copyright.PENANAFL62LansSZ
---
Kasur berderit ketika mereka bergeser, Ayahsa masih menungging, Reza masih di dalamnya, memberikan ruang kosong selebar badanku di sebelah mereka. Sprei yang biasanya putih sekarang bernoda basah, membentuk peta yang tak ingin kubaca. Aku melihat telapak kaki Reza menekan kasur dengan jari-jari yang meregang, seperti kucing yang sedang memijat.
14447Please respect copyright.PENANASparHMQqQw
Kakiku bergerak sendiri, melangkah maju. Ini mimpi buruk, pikirku. Tapi bau mereka, keringat, seks, dan parfum mahal itu, terlalu nyata untuk dikatakan tidak nyata. Kucium aroma sop buntut yang masih menempel di baju kerjaku, bertabrakan dengan keharuman lain yang lebih liar dari tubuh mereka.
14447Please respect copyright.PENANAbt4C7OjXUr
"Ardi..." Ayasha mengulurkan tangan, jari-jarinya yang biasanya memegang sendok sop sekarang menggenggam guling dengan erat. Ia tersenyum, senyum yang sama seperti ketika ia menungguku di depan pintu dengan handuk setelah aku kehujanan. Hanya sekarang bibirnya bengkak oleh sesuatu yang bukan gigitanku.
---
"Sayang, kamu tidur saja dulu," bisik Ayasha, suaranya terengah tapi lembut seperti ketika ia membujukku mencoba resep barunya. Matanya, yang biasanya mengembang seperti bulan purnama saat orgasme, sekarang setengah tertutup oleh kelelahan, tapi pupil-pupil itu membesar lagi ketika Reza menampar pantatnya. Suara "plak!" itu menggema di kamar yang pengap, meninggalkan bekas merah di kulitnya yang putih mulus.
14447Please respect copyright.PENANABUPaLi319R
Aku mengangguk. Mengangguk seperti orang bodoh yang baru saja diberitahu langit itu biru. Mengangguk seperti karyawan yang disuruh lembur tanpa bayaran. Mengangguk seperti Ardi yang tidak tahu harus melakukan apa selain mengiyakan apa yang dikatakan istriku, atau mantan istriku? Tuhan, aku bahkan tidak tahu gelar apa yang pantas sekarang.
14447Please respect copyright.PENANAMnuKhKMYsu
Kasur bergoyang ketika aku merebahkan diri di samping mereka, seperti penonton di pertunjukan porno paling aneh sepanjang sejarah. Aromanya menusuk: keringat Reza yang asam bercampur minyak wangi mahal itu dan sesuatu yang lebih dalam, bau seks yang kental, seperti daging mentah yang dibiarkan di bawah terik matahari.
14447Please respect copyright.PENANAO90PIx8whi
Pergelangan tangan Ayasha bergerak pelan, jarinya yang masih bercat merah muda menyentuh pahaku. "Ayah pasti capek," bisiknya, tapi kontak itu terputus ketika Reza menggenggam pinggulnya lagi, mendorong lebih dalam sampai Ayasha menjerit kecil. Jeritan yang dulu hanya untukku.
14447Please respect copyright.PENANARYZZP0eH89
Aku menutup mata, tapi suara mereka masuk melalui celah-celah telingaku: desahan Reza yang berat, cekikan Ayasha yang bernada tinggi, bunyi kulit saling gesek seperti daging mentah yang dipukul-pukul. Kasur berderit dalam ritme kuda poni mekanik yang rusak, satu, dua, tiga, pause, lalu lebih cepat lagi.
14447Please respect copyright.PENANAdfCKh7NOuO
Aku tidak tahu kapan tepatnya tertidur. Yang kuingat hanyalah suara mereka, desahan Reza yang semakin kasar, erangan Ayasha yang semakin tidak terkendali, bercampur dengan bunyi kasur yang berderit seperti kapal tua yang hendak tenggelam. Lalu gelap. Gelap yang hangat dan basah oleh air mata yang bahkan tidak kusadari sudah mengalir.
------
14447Please respect copyright.PENANA1W7ftuqTLB
14447Please respect copyright.PENANAiPdRZ9afoo
14447Please respect copyright.PENANArD9MrNaYMX
14447Please respect copyright.PENANA4RNmbjOjX3
14447Please respect copyright.PENANAmY1scVCJBh
14447Please respect copyright.PENANAvnY4qNzlJ6
14447Please respect copyright.PENANAnF6wKMIoJ0
14447Please respect copyright.PENANASFtNhFWF8D
14447Please respect copyright.PENANADaflY9t6ZV
Ketika terbangun, mataku terasa bengkak dan perih. Air liur mengering di sudut bibir. Cahaya bulan menyelinap dari celah tirai, menerangi dua siluet yang masih bergerak di sampingku. Reza sekarang berbaring telentang, dengan Ayasha di atasnya, rambutnya yang biasanya rapi kini berantakan seperti sarang burung, menggelantung basah di punggungnya yang berkeringat. Mereka tidak melihatku. Atau mungkin memilih untuk tidak melihat.
14447Please respect copyright.PENANAM1b8wNGKms
------------------
14447Please respect copyright.PENANAgYVcAQeJcO
Dua bulan telah berlalu sejak malam itu, dan aku masih belum pernah bertanya. Tidak tentang kapan mereka mulai. Tidak tentang siapa yang lebih dulu menginginkan ini. Tidak tentang apa yang mereka lakukan saat aku tidak ada. Pertanyaan-pertanyaan itu mengambang seperti asap rokok yang sengaja tidak kuhirup, hanya kubiarkan menggantung sebelum akhirnya menghilang dengan sendirinya.
14447Please respect copyright.PENANA5NisshMhlh
Aku bangun dengan bekas cakaran baru di punggung, garis-garis merah tipis yang akan berubah ungu dalam beberapa jam. Ayasha sudah bangun, ranjang di sebelahku kosong tapi masih hangat. Dari balik pintu kamar mandi terdengar suara air dan desahan Ayasha yang kukenal terlalu baik. Suara lain, desahan lebih dalam, lebih berat, membuatku tersenyum kecut. Reza.
14447Please respect copyright.PENANANYmKcG2MPs
Kubuka lemari pakaian. Kaos oblong favoritku yang biasa dipakai Ayasha saat tidur tergantung longgar di gagang pintu, masih basah oleh keringat Kumandulkan kaos itu kembali dengan hati-hati, seperti menyimpan bukti kejahatan yang tidak ingin kuselesaikan.
14447Please respect copyright.PENANA6ZDRySWkIE
"Pagi, Sayang." Ayasha muncul dari kamar mandi hanya dengan handuk kecil di pinggang, rambutnya meneteskan air ke bahu yang penuh bekas gigitan. Bibirnya bengkak, tapi matanya bersinar seperti biasa saat melihatku. Ia mendekat, tangan dinginnya menyentuh perutku yang masih kosong. "Lapar?" tanyanya sambil menggigit telingaku, persis seperti dulu.
14447Please respect copyright.PENANAs8HreZPXek
Di belakangnya, Reza keluar dengan hanya handuk di pinggang. Badannya yang kekar, lebih kekar dariku, dipenuhi bekas cakaran merah mirip di punggungku. Ia menganggap sambil mengeringkan rambutnya yang pendek, lalu tanpa malu-malu melepas handuknya dan mulai berpakaian di depan kami. Ayasha memandangnya dengan tatapan yang membuat perutku mulas, tatapan yang dulu hanya untukku.
14447Please respect copyright.PENANAKuPMyi60kk
----
14447Please respect copyright.PENANAZD2FMpQxPQ
Aku menatap cermin di atas wastafel kamar mandi, wajah yang memandang balik terlihat asing, garis-garis lelah di sekitar mata, bibir kering yang tak kunjung sembuh meski sudah kuoleskan lipbalm Ayasha. Air dingin yang kucipratkan tak bisa menghapus fakta bahwa Reza sekarang tinggal di sini, di rumah kami. Kamarnya, yang dulu kamar tamu, kini berubah menjadi ruang personal dengan bau parfumnya yang mahal dan kaos-kaos hitam bergantung di pintu lemari.
14447Please respect copyright.PENANA7XezvDdaqx
Awalnya kubayangkan ini hanya fase sementara, semacam eksperimen seksual yang akan pudar dalam beberapa minggu. Tapi kini, setelah dua bulan, aku menemukan sikat gigi ketiga di gelas keramik Ayasha, handuk ketiga di gantungan, dan sepatu kulit Reza yang selalu rapi di rak depan. Yang lebih aneh lagi, aku mulai terbiasa.
----------------------------
14447Please respect copyright.PENANA6W6bR5Y72s
14447Please respect copyright.PENANAxARLGRM6rP
14447Please respect copyright.PENANAa4WT8Siw6g
14447Please respect copyright.PENANAggOH9bmOf8
14447Please respect copyright.PENANACwPzYC2Ecc
14447Please respect copyright.PENANAA2v38t085v
14447Please respect copyright.PENANAgw8rORD4ST
14447Please respect copyright.PENANAVMCCIUchRD
14447Please respect copyright.PENANAR9AzctbgRH
14447Please respect copyright.PENANAM7wvFdG0BE
14447Please respect copyright.PENANA5OmW8cixt8
14447Please respect copyright.PENANAFApwH3RG8E
14447Please respect copyright.PENANAEKQXYU1Pzs
Malam pertama mereka memintaku bergabung, aku berdiri kaku di tepi kasur seperti aktor figuran yang lupa dialog. Tapi sekarang, tubuhku bergerak otomatis saat Ayasha menarik lenganku, bibirnya yang sudah terlatih dalam seni manipulasi halus membisikkan "Ayah mau giliran pertama atau kedua?" seperti menanyakan mau kopi atau teh.
14447Please respect copyright.PENANAy70AgMcZgj
Ada momen-momen jujur di antara kita bertiga, ketika Reza dan aku saling memandang di atas tubuh Ayasha yang terbelah, bibirnya menggigit bantal sementara kedua tangan kami saling bersentuhan di pinggulnya. Dalam detik-detik itu, aku bisa melihat ketakutan yang sama di matanya: *Kita sudah sejauh apa?*
14447Please respect copyright.PENANAePLvb6sMOd
Tapi kemudian Ayasha akan mengerang lebih keras, menggenggam erat tangan kami berdua, dan segala pertanyaan tenggelam dalam pusaran daging yang basah dan panas. Aku belajar hal-hal baru tentang istriku, bagaimana dia menggeliat berbeda saat Reza menyentuhnya, suaranya yang lebih serak ketika orgasme dengan kontol Reza yang lebih panjang di dalamnya. Aku seharusnya cemburu. Tapi yang kurasakan justru semacam kebanggaan aneh, seperti penonton yang terpesona melihat karyanya dihargai orang lain.
14447Please respect copyright.PENANAaM0IvqlaGH
"Malam ini aku mau kalian berdua," bisik Ayasha tadi malam sambil jarinya melingkari pergelangan tangan kami, menarik kami ke kamar seperti algojo membawa tahanan. Aku melihat panik sekilas di mata Reza, baru pertama kalinya kami bertiga benar-benar bersatu. Kasur berderit di bawah berat tiga tubuh dewasa ketika Ayasha membimbing kami dengan tangan dinginnya yang mahir. "Sini," desisnya sambil memosisikan kepalaku di antara pahanya yang terbuka, sementara tangan lainnya menuntun Reza ke belakangnya.
14447Please respect copyright.PENANAzdWJixu4ao
Aroma mereka memenuhi rongga hidungku, keringat Reza bercampur parfumnya yang mahal, dan juga bau keringat dari leher Ayasha yang selalu kusukai. Lidahku bergerak otomatis di tempat yang sudah terlalu kukenal, sementara di belakangku, aku mendengar suka plastik pembungkus kondom robek. Ayasha mengerang lebih keras ketika Reza memasuki dari belakang, tubuhnya terjepit di antara kami seperti sandwich manusia.
14447Please respect copyright.PENANA8CTnFnnqXx
"Lebih kasar dong, ayo dong sayang..." Ayasha mengatur napas dengan suara terengah, tapi kedua tangannya justru menarik rambutku dan kepala Reza lebih dalam ke tubuhnya. Aku melihat mata Reza dari balik paha Ayasha yang terbuka lebar, matanya yang biasanya dingin sekarang melebar, hitam pekat oleh hasrat yang sama yang menggelora di dadaku. Untuk pertama kalinya sejak semua ini mulai, kami saling mengangguk dengan pengertian aneh, dua musuh yang bersekutu sementara untuk memburu mangsa yang sama.
14447Please respect copyright.PENANAkjYmfzhMma
Kasur berderit keras ketika Reza mulai mendorong perlahan, membuat Ayasha melengkung seperti busur panah antara kami. Tanganku yang mencengkeram pinggulnya merasakan setiap sentakan tubuh Reza, setiap inci yang hilang kemudian muncul kembali dengan basah. Kulit telapak tanganku bersentuhan dengan jari-jari Reza yang juga menggenggam erat, kami seperti dua algojo yang memegang tali hukuman gantung yang sama.
14447Please respect copyright.PENANANKdDbrXFCX
"Lebih keras," gerutu Ayasha tiba-tiba, suaranya parau seperti belum pernah digunakan selama bertahun-tahun. Matanya yang setengah tertutup sekarang terbuka lebar, memandang kami berdua bergantian dengan tatapan yang membuatku teringat bagaimana ia melihat menu makanan favoritnya di restoran mahal.
14447Please respect copyright.PENANAUPL0GsRHGz
Reza adalah yang pertama menanggapi, genjotannya tiba-tiba berubah dari ritme terukur menjadi gerakan kasar seperti mesin pemotong rumput yang macet. Aku merasakan tubuh Ayasha terlempar ke arahku setiap kali Reza menarik pinggulnya kembali, membuat bibirku tergesek kulit perutnya yang halus. Ada sesuatu yang ganas dalam cara kami memperlakukannya sekarang, bukan sebagai istri atau kekasih, tapi sebagai wadah untuk kemarahan kami yang tak terucapkan.
14447Please respect copyright.PENANAzKPaE3ugyU
Oh tuhan, suami macam apa aku ini?
Ini salah tapi ini enak
14447Please respect copyright.PENANA0b5sB6W053


