Di masjid besar Al-Hikmah di bilangan Bintaro, nama Dahlia selalu disebut dengan nada hormat bercampur kagum. Usianya baru 30 tahun, tapi ia sudah menjadi ustadzah tetap yang mengisi kajian setiap Selasa malam. Gamisnya selalu rapi, berwarna pastel lembut, tapi tetap menonjolkan lekuk tubuh bahenol yang alami. Anak-anak jamaah kecil suka berlari mendekat begitu ia turun dari mimbar. “Ustazah, ceritain lagi dong tentang Nabi Nuh!” seru seorang bocah perempuan bernama Aisyah. Dahlia tersenyum, mengelus kepala si kecil. “Nanti ya, setelah adik-adik sholat Isya dulu.” Suaranya lembut, seperti angin malam yang menenangkan. Beberapa ibu tersenyum melihatnya, tapi ada yang diam-diam mengernyit. Dahlia tahu, tapi ia tak pernah ambil pusing.
9415Please respect copyright.PENANAu5FJtGghf9
Berbeda dengan pemuka agama lain yang memasang tarif untuk kajian luar, Dahlia tak pernah meminta sepeser pun. “Ini ibadah, bukan dagang,” katanya tegas saat ditanya wartawan lokal. Justru karena itulah, jamaah tak ragu memberi imbalan besar. Ada yang menyisipkan amplop tebal di tasnya, ada yang mentransfer langsung ke rekening yayasan. “Ustazah, buat keperluan dakwah,” kata Pak Budi, seorang pengusaha sukses, sambil menyerahkan cek. Dahlia menggeleng pelan. “Terima kasih, Pak. Tapi ini terlalu banyak.” Pak Budi tertawa. “Ustazah terlalu rendah hati. Kami yang beruntung punya panutan seperti ini.” Dahlia akhirnya menerima, tapi selalu mengalihkan dana itu untuk anak yatim.
9415Please respect copyright.PENANAoj34vb4Fy9
Belum menikah di usia 30 sering jadi bahan bisik-bisik ibu-ibu. “Cantik, alim, kok belum ada yang melamar?” tanya Bu Rina pada Bu Lina di pojok masjid. “Mungkin terlalu pemilih,” jawab Bu Lina singkat. Dahlia mendengar, tapi hanya tersenyum. Ia memang sering ditanya soal jodoh saat sesi tanya jawab. “Ustazah, kapan nikah?” tanya seorang remaja laki-laki dengan wajah merah. Dahlia tertawa ringan. “Doain aja, Nak. Yang penting hati tenang dulu.” Anak-anak kecil malah lebih polos. “Ustazah mau nikah sama siapa? Sama Ustaz Ahmad?” goda seorang bocah laki-laki. Dahlia mengacak rambutnya. “Belum tahu, sayang. Yang penting adik-adik rajin ngaji ya.”
9415Please respect copyright.PENANAKf1ZjFWIcS
Anak-anak jamaah memang sangat menyayangi Dahlia. Setelah kajian, mereka berebut duduk di dekatnya untuk mendengar cerita. “Ustazah, malaikat itu punya sayap berapa?” tanya seorang anak laki-laki bernama Rafi. “Ada yang dua, ada yang empat, bahkan ada yang enam,” jawab Dahlia sambil membuka Al-Quran. Ia selalu membawa permen untuk dibagikan. “Ini hadiah buat yang hafal surat pendek,” katanya. Tawa anak-anak menggema di serambi masjid. Para ibu tersenyum melihatnya. “Anakku pulang dari masjid langsung semangat ngaji gara-gara Ustazah Dahlia,” cerita Bu Sari pada yang lain. Dahlia hanya mengangguk ramah, tak pernah sombong.
9415Please respect copyright.PENANApFATI49u7N
Malam itu, kajian tentang sabar di bulan Ramadhan berlangsung khidmat. Dahlia naik mimbar dengan gamis krem yang sedikit berkilau di bawah lampu. “Sabar itu bukan berarti diam saja, tapi tetap berusaha sambil tawakal,” katanya. Jamaah mengangguk setuju. Seorang ibu mengangkat tangan. “Ustazah, gimana kalau suami suka marah-marah?” Dahlia tersenyum. “Ajari dia sabar dengan kasih sayang, Bu. Bukan dengan balas marah.” Tawa kecil terdengar. Anak-anak di baris belakang mulai gelisah. “Ustazah, boleh cerita tentang burung Hudhud?” pinta Aisyah lagi. Dahlia mengedipkan mata. “Selesai kajian ya, janji.”
Setelah kajian usai, Dahlia turun dari mimbar dan langsung dikerubungi anak-anak. “Ustazah, besok ceritain tentang Nabi Yusuf dong!” seru Rafi. Dahlia mengangguk. “InsyaAllah, kalau adik-adik rajin sholat tarawih.” Ia membagikan permen lagi. Para ibu mulai mendekat untuk bersalaman. “Ustazah, makasih ilmunya. Hati jadi adem,” kata Bu Rina. Dahlia memeluknya pelan. “Sama-sama, Bu. Semoga kita semua istiqamah.” Di sudut masjid, seorang pemuda bujangan memandangnya lama. Dahlia tahu, tapi ia tetap tersenyum ramah. Malam itu, masjid Al-Hikmah kembali pulang dengan hati yang tenang—dan sedikit rasa penasaran yang tak pernah diucap.
9415Please respect copyright.PENANAgllUBieYNJ
Saat Dahlia berjalan ke parkiran, seorang anak kecil berlari mengejar. “Ustazah! Ini gambar buat Ustazah!” serunya sambil memberikan kertas lipat. Dahlia membukanya—gambar dirinya dengan gamis dan anak-anak di sekitarnya. “Cantik sekali, terima kasih ya,” katanya sambil memeluk si kecil. Ia naik motor bututnya, gamisnya berkibar lembut. “Assalamualaikum, sampai jumpa minggu depan!” teriaknya pada satpam masjid. Satpam mengacungkan jempol. “Waalaikumsalam, Ustazah. Hati-hati di jalan!” Dahlia melaju perlahan, lampu belakang motornya berkedip di kegelapan Bintaro. Di belakangnya, masjid besar itu masih terang—seperti harapan yang ia tinggalkan setiap kali berdakwah.
9415Please respect copyright.PENANAkbuQvfUbbf
***
9415Please respect copyright.PENANAFj5Q8ipUgT
Malam Selasa di masjid Al-Hikmah Bintaro selalu penuh sesak terutama saat Dahlia mengisi kajian rumah tangga. Pintu gerbang dibuka lebar dan parkiran motor serta mobil membludak hingga ke pinggir jalan. Jamaah laki-laki duduk di baris depan dengan mata berbinar sementara ibu-ibu di belakang saling berbisik. Dahlia naik mimbar dengan gamis ungu muda yang licin dan lekuk pinggangnya terlihat jelas saat ia melangkah. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" sapanya lembut. Jamaah serentak menjawab dengan antusias. "Malam ini kita bahas harmoni suami istri sesuai permintaan banyak jamaah" lanjutnya tegas. Seorang pria di baris depan langsung mengacungkan jempol. "Ustazah ini yang ditunggu-tunggu!" serunya lantang. Dahlia tersenyum dan hati masjid sudah mulai hangat.
9415Please respect copyright.PENANACyMGuhfuhD
Dahlia membuka Al-Quran lalu menutupnya lagi untuk bicara langsung ke jamaah. "Rumah tangga harmonis dimulai dari kamar tidur bukan dapur" katanya dengan nada yakin. Beberapa ibu mengernyit tapi laki-laki mengangguk antusias. "Istri wajib memuaskan nafsu suami karena itu hak suami yang dijamin syariat" lanjut Dahlia. Seorang bapak tua bertanya dengan suara pelan "Ustazah kalau istri capek gimana?". Dahlia menjawab cepat dan jelas. "Capek boleh tapi jangan menolak total beri alternatif seperti pelukan atau ciuman dulu". Tawa kecil terdengar di seluruh ruangan. "Suami juga harus paham istrinya manusia bukan mesin" tambahnya bijak. Masjid mulai riuh dengan bisik-bisik setuju dari para jamaah.
9415Please respect copyright.PENANAUNOw9KxhzN
Kemudian Dahlia masuk ke topik panas yang bikin semua orang menahan napas. "Banyak istri menolak saat suami minta gaya aneh-aneh padahal itu boleh selama tidak menyakiti" katanya tenang. Ia angkat jari satu untuk memulai. "Pertama doggy style suami di belakang istri merangkak ini bikin suami merasa kuat". Beberapa ibu menutup mulut sementara laki-laki tersenyum lebar. "Kedua woman on top istri di atas mengendalikan ritme ini buat istri yang ingin dominan sesekali". Seorang remaja di belakang berbisik "Astaghfirullah Ustazah berani banget!". Dahlia melanjutkan tanpa ragu. "Ketiga spooning berbaring miring suami peluk dari belakang romantis dan tidak capek". Masjid mulai panas dengan reaksi heboh.
9415Please respect copyright.PENANA3En4QpsvYl
Dahlia tak berhenti dan suaranya tetap tenang meski wajah jamaah memerah. "Keempat standing position berdiri di dinding suami angkat istri sedikit ini buat yang suka petualangan" jelasnya eksplisit. Seorang ibu muda bertanya lantang "Ustazah tidak malu kah ngomong gini?". Dahlia tertawa ringan. "Malu sama Allah kalau kita abaikan hak suami ini ilmu bukan dosa". Laki-laki di baris depan bertepuk tangan pelan. "Kelima 69 saling oral posisi kepala ke kaki ini butuh kepercayaan tinggi" tambah Dahlia. Masjid heboh ada yang tertawa ada yang geleng-geleng. "Tapi ingat harus suka sama suka dan bersih" tegasnya kuat. Suasana seperti pasar malam yang ramai.
9415Please respect copyright.PENANA13MAZVdvrh
Setelah penjelasan panas Dahlia kembali ke nasihat lembut untuk menenangkan. "Intinya komunikasi adalah kunci suami jangan memaksa istri jangan menolak tanpa alasan syar’i" katanya. Seorang suami angkat tangan dengan semangat. "Ustazah istri saya bilang doggy style tidak sopan gimana?". Dahlia menjawab santai "Ajari pelan-pelan mulai dari spooning dulu jangan langsung ekstrim". Ibu-ibu mulai ribut di baris belakang. "Ustazah suami saya minta 69 saya takut!" keluh Bu Rina. Dahlia tersenyum lembut. "Mulai dari ciuman dulu Bu nafsu suami seperti api kalau dipadamkan paksa bisa meledak di luar". Tawa meledak lagi di seluruh masjid.
9415Please respect copyright.PENANA7NVGhzw7wG
Sesi tanya jawab berlangsung hingga larut dan lampu masjid seperti semakin terang. "Ustazah besok bahas foreplay dong!" pinta seorang pemuda dengan wajah merah. Dahlia menggeleng sambil tertawa. "Sabar Nak minggu depan kita bahas sabar dalam ranjang". Anak-anak kecil yang tadi duduk di belakang sudah pulang digantikan orang dewasa yang haus ilmu. "Ustazah ini kajian paling ramai sepanjang tahun" kata Pak Budi sambil menyodorkan amplop lagi. Dahlia menolak pelan. "Simpan untuk yatim Pak ilmu ini gratis". Masjid masih riuh saat azan Isya berkumandang. Jamaah enggan pulang masih ingin bertanya lebih banyak.
9415Please respect copyright.PENANAyBBVvhLtmG
Malam itu masjid Al-Hikmah bukan lagi tempat suci yang kaku tapi arena komedi romansa syar’i. Dahlia turun mimbar gamisnya berkibar tubuh bahenolnya masih jadi pusat perhatian. "Assalamualaikum sampai jumpa minggu depan!" serunya ramah. Jamaah menjawab ramai dan antusias. Beberapa suami buru-buru pulang mata berbinar penuh harap. "Malam ini pasti ranjang panas" bisik seorang pada temannya. Dahlia naik motor angin malam menyapu wajahnya. Di belakang masjid masih terang dengan lampu-lampu. Lampu-lampu seperti menyimpan rahasia panas yang baru saja dibuka. Bintaro malam itu terasa lebih hidup berkat ustadzah yang tak pernah takut bicara blak-blakan.
9415Please respect copyright.PENANAFrdBMZmjjh
***
9415Please respect copyright.PENANAJYFQ0vP0AP
Majelis baru saja bubar dan masjid Al-Hikmah masih ramai dengan suara langkah kaki. Dahlia turun dari mimbar sambil melipat catatan kajiannya. Beberapa ibu-ibu langsung menghampirinya di serambi depan. Mereka tersenyum lebar tapi mata penuh rasa ingin tahu. "Ustazah, rahasianya apa sih kok bisa secantik ini?" tanya Bu Rina sambil memegang lengan Dahlia. Dahlia tertawa ringan. "Rahasia biasa aja, Bu, tidur cukup dan minum air putih banyak." Bu Lina ikut mendekat. "Beneran? Kulit Ustazah mulus banget, kayak artis." Dahlia menggeleng sambil tersipu.
9415Please respect copyright.PENANAX6zdbzfuaZ
Ibu-ibu semakin banyak mengerubungi Dahlia seperti anak kecil berebut permen. "Andai aku sebahenol Ustazah, suamiku pasti betah di rumah," kata Bu Sari setengah bercanda. Beberapa yang lain tertawa ngakak. "Iya nih, badanku udah kayak papan cuci," tambah Bu Tuti. Dahlia ketawa sampai bahunya bergoyang. "Bu-bu, jangan gitu dong, cantik itu dari hati kok." Bu Rina menggeleng. "Hati boleh, tapi body Ustazah ini bonus dari Allah." Mereka semua tertawa lagi. Dahlia hanya mengangkat bahu sambil tersenyum lebar.
9415Please respect copyright.PENANAKWG8tLmcaj
Pujian semakin berani saat mereka melihat gamis Dahlia yang menempel di lekuk tubuh. "Payudara Ustazah besar dan kencang ya, pasti suami bakal betah," kata Bu Lina pelan tapi terdengar. Dahlia menutup mulut pura-pura kaget. "Astaghfirullah, Bu, ini kan ditutup aurat." Bu Sari ikut nimbrung. "Payudaraku kempot kayak telur ceplok, beda jauh sama Ustazah." Semua ibu-ibu tertawa histeris. "Iya, punyaku udah kendur sejak punya anak tiga," cerita Bu Tuti. Dahlia masih ketawa. "Bu-bu, jangan banding-bandingin, setiap orang punya kelebihan sendiri."
9415Please respect copyright.PENANAnGuZrWpbSf
Salah satu ibu yang lebih pendiam mulai angkat bicara dengan nada khawatir. "Ustazah, suamiku sekarang rajin ke masjid gara-gara kajian ini," kata Bu Aminah. Dahlia mengangguk sambil mendengarkan. "Alhamdulillah, Bu, berarti kajiannya bermanfaat." Bu Aminah menggeleng pelan. "Tapi aku khawatir dia datang bukan buat ibadah, tapi cuma lihat Ustazah yang seksi." Beberapa ibu lain mengangguk setuju. "Iya, suamiku juga bilang Ustazah cantik banget," tambah Bu Rina. Dahlia tertawa lagi. "Ya ampun, Bu, fokus ke ilmunya aja dong."
9415Please respect copyright.PENANApj1neUpSd9
Ibu-ibu mulai berbisik satu sama lain sambil melirik Dahlia dari atas ke bawah. "Gamisnya ketat banget, lekuk pinggulnya keliatan jelas," bisik Bu Sari pada Bu Lina. Dahlia pura-pura tak dengar tapi tersenyum. "Ustazah, beneran belum nikah? Cowok mana yang nggak tergoda?" tanya Bu Tuti. Dahlia mengangkat tangan. "Belum ada yang cocok, Bu, doain aja." Bu Aminah masih cemas. "Pokoknya aku awasi suamiku, jangan sampai mata nakal." Semua tertawa lagi. Dahlia mengelus bahu Bu Aminah. "Tenang, Bu, suami Ibu pasti takut sama Allah."
9415Please respect copyright.PENANAChThpY11sf
Waktu semakin larut tapi ibu-ibu enggan beranjak dari dekat Dahlia. "Ustazah, ajarin dong cara jalan yang anggun kayak gitu," pinta Bu Rina. Dahlia berpura-pura berjalan model. "Gini aja, Bu, santai tapi tegap." Mereka semua ikut meniru sambil tertawa. "Payudaraku goyang-goyang nih," kata Bu Sari. Dahlia ketawa sampai hampir jatuh. "Bu-bu, pulang dulu yuk, besok kan ada kajian lagi." Akhirnya mereka mulai bubar. Dahlia melambai sambil tersenyum lebar.
9415Please respect copyright.PENANAT9n8UREQoT
Saat Dahlia berjalan ke parkiran, masih ada ibu-ibu yang menyusul dari belakang. "Ustazah, foto bareng dong!" seru Bu Lina sambil angkat ponsel. Dahlia berpose ramah dengan gamis ungunya yang berkilau. "Cantik banget, suamiku pasti iri lihat ini," kata Bu Tuti. Dahlia tertawa terakhir. "Kirim salam buat suami-suami ya, Bu."
9415Please respect copyright.PENANAYBMS0wXWjG


