Beberapa ibu-ibu sudah mulai pulang dengan motor matic mereka sambil melambai ke Dahlia. Masjid Al-Hikmah masih belum sepi sepenuhnya karena lampu serambi menyala terang. Dahlia tetap dikerubungi sekitar sepuluh ibu yang duduk di tikar anyaman. Mereka sesekali memuji kecantikan Dahlia sambil memegang ujung gamisnya. "Ustazah, kulitnya glowing banget, pakai skincare apa sih?" tanya Bu Rina sambil memandang wajah Dahlia. Dahlia tersenyum lebar. "Cuma sabun colek sama air wudhu, Bu, bercanda." Bu Lina ikut tertawa. "Beneran? Aku pakai serum mahal kok masih kusam." Dahlia menggeleng pelan. "Yang penting hati bersih, Bu, kulit ikut cerah." Mereka semua mengangguk setuju. Obrolan ringan terus mengalir di udara malam Bintaro.
7942Please respect copyright.PENANAwgSrngQl8u
Ibu-ibu mulai bertanya soal cara memuaskan suami yang minta fetish aneh-aneh. "Ustazah, suamiku minta pakai kostum suster, malu banget," cerita Bu Sari pelan. Dahlia ketawa kecil. "Kalau nggak nyakitin, boleh aja, Bu, biar suami senang." Bu Tuti ikut nimbrung. "Kalau minta di kamar mandi gimana? Airnya boros." Dahlia mengangkat bahu. "Pakai shower aja, hemat air tapi tetap romantis." Beberapa ibu menutup mulut tertawa. "Ustazah tahu banget ya," kata Bu Aminah. Dahlia mengedipkan mata. "Ilmu dari kajian, Bu, bukan pengalaman." Mereka semua tertawa lagi. Suasana semakin akrab di serambi masjid.
7942Please respect copyright.PENANA8CvtKBFwQS
Pengurus masjid mulai mendekat sambil membawa termos kopi hangat. Pak Budi, ketua takmir, memandang tubuh Dahlia berlama-lama sebelum bicara. "Ustazah, semenjak aktif, masjid ramai terus," katanya sambil menuang kopi. Dahlia menerima gelas kecil. "Alhamdulillah, Pak, berkat doa semua." Pak Ahmad, bendahara, ikut nimbrung. "Sodaqoh minggu ini naik dua kali lipat." Dahlia tersenyum. "Bagus, Pak, buat renovasi toilet putri ya." Pak Budi mengangguk sambil melirik lekuk pinggang Dahlia. "Iya, Ustazah, jamaah laki-laki pada rajin sekarang." Dahlia pura-pura tak sadar. Obrolan pengurus bercampur pujian halus.
Bu Rina kembali ke topik skincare sambil memegang pipi Dahlia. "Ustazah, masker apa yang dipakai malam-malam?" tanyanya penasaran. Dahlia menjawab santai. "Masker madu campur yogurt, Bu, alami." Bu Lina mencatat di ponsel. "Aku coba deh, biar suami bilang cantik lagi." Dahlia ketawa. "Suami Ibu pasti sudah bilang tiap hari." Beberapa ibu mengangguk. "Iya, tapi kalau body kayak Ustazah lebih mantap," kata Bu Sari. Dahlia menggeleng. "Body ini bonus, Bu, yang penting sehat." Mereka semua setuju sambil minum teh manis.
7942Please respect copyright.PENANA7MR1B1j0dC
Pak Ahmad sesekali melirik dada Dahlia yang naik-turun saat tertawa. "Ustazah, minggu depan kajian apa lagi?" tanyanya pura-pura serius. Dahlia menjawab cepat. "Bahas foreplay syar’i, Pak." Pak Budi hampir tersedak kopi. "Wah, pasti ramai lagi." Dahlia tersenyum. "InsyaAllah, Pak, ilmu buat rumah tangga." Bu Tuti ikut bertanya. "Ustazah, fetish suami minta main peran polisi, gimana?" Dahlia ketawa ngakak. "Pakai topi aja, Bu, nggak perlu borgol." Pengurus masjid ikut tertawa. Suasana campur aduk antara syukur dan godaan.
7942Please respect copyright.PENANAALTKai3mFl
Ibu-ibu mulai membahas fetish lain sambil saling pandang. "Suamiku minta di balkon, takut tetangga lihat," keluh Bu Aminah. Dahlia menenangkan. "Pakai tirai tebal, Bu, tetap aman." Bu Rina menambahkan. "Aku dulu ditolak, sekarang suami bilang terima kasih kajian Ustazah." Dahlia mengacungkan jempol. "Alhamdulillah, misi tercapai." Pak Budi mengangguk. "Masjid untung, rumah tangga untung." Dahlia tersenyum lebar. "Semua untung, Pak." Mereka semua tertawa lagi. Malam semakin larut tapi obrolan tak habis-habis.
7942Please respect copyright.PENANA6HvBdLgQxa
Akhirnya Dahlia berdiri sambil melipat gamisnya yang sedikit kusut. "Bu-bu, Pak-pak, pulang dulu ya, besok kerja," katanya ramah. Bu Lina memeluknya. "Makasih ilmunya, Ustazah." Pak Ahmad melambaikan tangan. "Hati-hati di jalan, Ustazah."
7942Please respect copyright.PENANAbkGf1724Ba
***
7942Please respect copyright.PENANA6dkvmZ96j7
Persis sebelum Dahlia pamit pulang, suasana serambi masjid mulai tenang dengan beberapa ibu-ibu sudah naik motor masing-masing sementara pengurus masjid membersihkan gelas kopi bekas sambil berbisik ringan. Dahlia melipat catatan kajiannya rapi di atas tikar anyaman. Tiba-tiba seorang bapak dari pojok teras mendekat pelan dengan kopiah hitam agak lusuh dan baju koko putih. Langkahnya ragu-ragu seperti orang gelagapan. Dahlia tersenyum ramah sambil menunggu. "Assalamualaikum, Ustazah," sapanya lirih. Dahlia menjawab cepat "Waalaikumsalam, Pak, ada yang bisa dibantu?". Bapak itu menunduk sebentar sambil menggosok tangan kasar. Semua mata kini tertuju padanya. "Maaf ganggu malam-malam, Ustazah," katanya lagi pelan. Dahlia mengangguk sambil tersenyum. "Tidak apa-apa, Pak, silakan duduk dulu."
7942Please respect copyright.PENANAC3AhJaMY59
Bapak itu bernama Pak Gatot berusia sudah 50 tahun dengan wajah penuh kerutan halus. Ia duduk di kursi kayu paling ujung tadi malam sepanjang kajian. Istrinya meninggal lima tahun lalu karena sakit jantung mendadak. Anak-anaknya sudah mandiri di kota lain dan jarang pulang. Ia jarang bicara di majelis hanya mendengar diam-diam dari belakang. Malam ini matanya tak lepas dari Dahlia sejak awal kajian panas. Tubuh bahenol Dahlia di gamis ungu membuatnya gelisah sepanjang malam. Ia menarik napas dalam-dalam berkali-kali untuk memberanikan diri. "Ustazah, saya Pak Gatot dari RT 05," katanya memperkenalkan diri. Dahlia mengangguk ramah "Oh, Pak Gatot, sering lihat Bapak di baris belakang ya". Pak Gatot tersipu malu sambil menggaruk kepala.
7942Please respect copyright.PENANAKYKuJT0tmN
"Sudah lama saya datang ke sini rutin, Ustazah," lanjutnya pelan. Pak Gatot mulai bicara dengan suara bergetar pelan tapi penuh keyakinan baru. "Saya sudah lama nggak mikir nikah lagi setelah istri meninggal dunia." Dahlia mendengarkan sambil tersenyum tenang tanpa menghakimi. "Tapi sejak lihat Ustazah dakwah dengan semangat, hati saya berubah total." Ia menatap mata Dahlia langsung tanpa berkedip lagi. "Saya ingin nikahi Ustazah dan bikin banyak keturunan lagi." Beberapa ibu yang belum pulang menutup mulut kaget sambil saling pandang. Pak Budi pengurus masjid hampir menjatuhkan termos kopi panas. Dahlia terkejut tapi tetap tenang menjaga sikap. "Pak Gatot, terima kasih atas niat baiknya yang tulus," katanya lembut. "Tapi saya belum siap menikah sekarang ini." Pak Gatot mengangguk pelan dengan wajah langsung muram.
7942Please respect copyright.PENANAOr3c1EybWt
Dahlia melihat Pak Gatot jadi gontai seperti kehilangan semangat hidup seketika. Bahunya melengkung ke depan sedih dan tangan memegang lutut. Ia memandang lantai ubin masjid lama tanpa berkata. Dahlia merasa kasihan tapi tetap tegas dalam penolakan. "Pak, jangan sedih ya atas penolakan ini," katanya menghibur lembut. "Bapak harus rajin ikut kajian sama saya terus setiap minggu." Pak Gatot mengangkat kepala pelan dengan mata penuh tanya. "Biar apa, Ustazah?" tanyanya bingung polos. Dahlia tersenyum genit sambil mengedip mata nakal. "Biar 'enak' hehe," katanya pelan dengan nada genit. Pak Gatot mengerutkan dahi bingung total. "Semoga Bapak paham maksudnya nanti," tambah Dahlia sambil tertawa kecil.
7942Please respect copyright.PENANApDoab5hoTf
Pak Gatot masih berdiri di tempat dengan wajah polos seperti anak kecil. "Enak yang mana, Ustazah?" tanyanya lagi dengan nada polos. Dahlia ketawa ringan sambil melambai tangan santai. "Enak hati dapat ilmu setiap kajian, Pak," jawabnya bohong sambil nyengir. Bu Rina di belakang nyengir lebar sambil bisik pada Bu Lina. "Pak Gatot, Ustazah genit nih malam ini," bisiknya pelan. Pak Gatot menggaruk kepala bingung tapi lega. "Oh, ilmu, ya Allah, saya kira yang lain," katanya lega. Dahlia mengangguk sambil menahan tawa dalam. "Iya, Pak, rajin ya kajiannya mulai minggu depan." Pak Gatot tersenyum tipis kembali. "InsyaAllah, Ustazah, pasti saya datang lebih awal," janjinya mantap.
7942Please respect copyright.PENANA1MqGV6yDoH
Dahlia akhirnya pamit dengan melambai ke semua yang masih ada. "Bu-bu, Pak-pak, saya pulang dulu ya sebelum malam tambah larut." Respons ramai "Hati-hati di jalan, Ustazah" dari ibu-ibu dan pengurus. Pak Gatot masih berdiri memandang Dahlia naik motor bututnya. Dahlia melaju perlahan ke kegelapan jalan Bintaro. Angin malam membawa tawa kecil dari serambi masjid. Masjid Al-Hikmah malam itu menyimpan cerita komedi kecil lagi. Lampu serambi masih menyala samar hingga larut. Pak Gatot pulang dengan langkah lebih ringan meski bingung. Kata "enak" yang genit dari Dahlia masih terngiang di telinga. Beberapa ibu tertawa pelan sambil naik motor. Malam Bintaro penuh rahasia manis tak terucap.
7942Please respect copyright.PENANAG0y4q4bg4H
Saat Dahlia sudah jauh, Pak Gatot masih berdiri sebentar di gerbang. Ia tersenyum sendiri mengingat senyum genit Dahlia. "Ustazah hebat bikin hati hidup lagi," gumamnya pelan. Bu Rina yang lewat mendengar dan tertawa. "Pak Gatot, jangan mimpi ya," godanya santai. Pak Gatot menggeleng sambil tersipu. "Bukan mimpi, Bu, doa aja," balasnya malu. Semua tertawa ringan sebelum bubar total. Masjid kembali sunyi seperti biasa. Lampu neon kuning mati satu per satu. Cerita malam itu jadi bahan gosip besok. Dahlia di rumah kosongannya tertawa sendiri mengingat kejadian. Bintaro malam itu hangat dengan komedi syar'i.
Pak Budi sebagai pengurus mengunci gerbang masjid sambil geleng-geleng. "Ustazah Dahlia ini magnet jamaah beneran," katanya pada Pak Ahmad. Pak Ahmad mengangguk sambil nyengir. "Termasuk Pak Gatot yang tiba-tiba berani melamar." Mereka berdua tertawa pelan sambil berjalan pulang. Sodaqoh malam ini lagi-lagi melimpah di kotak amal. Kajian panas Dahlia bikin masjid hidup. Pak Gatot di jalan pulang masih mikir kata "enak". Ia tersenyum tipis di bawah lampu jalan. "Besok datang lebih awal pasti," tekadnya dalam hati. Malam berakhir dengan hati-hati yang riang. Masjid Al-Hikmah siap ramai lagi minggu depan.
7942Please respect copyright.PENANAJfZye98fNX
***
7942Please respect copyright.PENANAf9BaUclk16
Dahlia sampai di depan pintu kostannya yang sederhana di gang sempit Bintaro dengan motor bututnya berhenti pelan. Ia turun sambil membuka kunci gerbang kecil kost khusus putri. Tiba-tiba suara motor lain mendekat dari belakang membuatnya menoleh. Pak Gatot muncul dengan motor tua sambil tersenyum malu-malu. "Ustazah, maaf saya ikuti dari masjid," katanya pelan. Dahlia terkejut tapi tersenyum. "Pak Gatot, kok ikut sampai sini?" tanyanya sambil memegang helm. Pak Gatot menggaruk kepala. "Boleh nggak malam ini saya ngaji berdua lagi, hehe," katanya malu-malu. Dahlia tertawa kecil. "Ih Bapak, yaudah ayo masuk, tapi kostan saya sempit lho." Pak Gatot langsung turun motor sambil celingak-celinguk memastikan tak ada yang melihat.
7942Please respect copyright.PENANAu4SnQFJlX8
Pak Gatot memarkir motornya di pojok gelap gang kostan putri itu. Ia memandang sekitar memastikan suasana malam hening tanpa orang. Kostan tingkat tiga ini khusus putri dengan lampu tangga redup. Dahlia membuka pintu kamarnya di lantai dua sambil melirik Pak Gatot. "Masuk Pak, jangan berisik ya, penghuni lain sudah tidur," bisiknya. Pak Gatot mengangguk cepat sambil masuk pelan. Pintu kamar kecil itu tertutup rapat di belakang mereka. Kamar sempit dengan kasur single dan meja kecil penuh buku agama. Pak Gatot duduk di kursi plastik sambil tersipu. "Maaf Ustazah, saya nekat banget malam ini," katanya lirih. Dahlia tersenyum sambil membuka jilbab panjang. "Santai aja Pak, ini kan ngaji," balasnya ringan.
7942Please respect copyright.PENANASFSV2m5DuZ
Dahlia izin ke kamar mandi kecil di sudut kostan untuk ganti baju. Ia keluar dengan baju kaos santai longgar dan kerudung pendek yang tak menutupi tonjolan payudaranya. Pak Gatot menelan ludah melihat lekuk tubuh Dahlia lebih jelas sekarang. "Ustazah, lebih cantik pakai gini," katanya tanpa sadar. Dahlia tertawa sambil menyeduh air panas di dispenser kecil. "Pak, fokus ngaji ya, jangan lirik-lirik," godanya genit. Mereka bikin teh hangat berdua di gelas sederhana. Aroma teh melati memenuhi kamar sempit itu. Pak Gatot memegang gelas dengan tangan gemetar. "Tehnya enak, Ustazah," katanya canggung. Dahlia duduk di kasur sambil menyilangkan kaki. "Ayo Pak, kita lanjut kajian harmonis suami istri," ajaknya santai.
7942Please respect copyright.PENANAygLVkifY59
Mereka mulai mengkaji dakwah hubungan harmonis antara suami istri dari catatan Dahlia. Pak Gatot membuka Al-Quran kecil yang dibawa dari masjid. "Ustazah, tadi doggy style boleh ya dalam syariat?" tanyanya malu. Dahlia mengangguk sambil minum teh. "Boleh Pak, asal suka sama suka dan tidak menyakiti." Pak Gatot memandang tonjolan payudara Dahlia yang terlihat jelas. "Kalau woman on top gimana caranya biar istri nyaman?" lanjutnya penasaran. Dahlia tersenyum sambil menjelaskan posisi itu eksplisit. Kamar semakin hangat dengan pembicaraan panas mereka. Pak Gatot mendengarkan sambil sesekali menatap tubuh Dahlia. "Ustazah tahu banget ya soal ini," katanya kagum. Dahlia tertawa pelan sambil menyentuh bahu Pak Gatot.
7942Please respect copyright.PENANA452Zzjj1wD
Pembahasan lanjut ke spooning yang romantis untuk pasangan tua. "Pak Gatot bisa coba ini kalau nanti punya istri baru," kata Dahlia genit. Pak Gatot tersipu lagi sambil memegang gelas teh kosong. "Ustazah mau jadi istri saya nggak?" tanyanya setengah bercanda. Dahlia menggeleng sambil tertawa. "Ngaji dulu Pak, jangan langsung melamar lagi." Mereka lanjut bahas standing position di dinding kamar. Dahlia berdiri demonstrasi posisi tanpa sentuh. Pak Gatot mata tak berkedip melihat gerakan Dahlia. "Enak kayaknya posisi ini, Ustazah," katanya nafsu. Dahlia duduk kembali sambil minum teh. "Iya Pak, tapi butuh tenaga suami kuat," balasnya nakal.
7942Please respect copyright.PENANAryDwyOxNVr
Kajian semakin dalam ke posisi 69 yang butuh kepercayaan tinggi. "Pak, ini posisi saling puas, tapi harus bersih dulu," jelas Dahlia eksplisit. Pak Gatot memerah wajah tapi antusias mendengar. "Ustazah berani banget ajarin ini berdua," katanya kagum. Dahlia tersenyum sambil mematikan lampu besar tinggal lampu meja. Suasana kamar semakin intim dengan cahaya kuning redup. "Ini ngaji privat Pak, rahasia kita," bisiknya. Pak Gatot mengangguk sambil mendekat sedikit. "Terima kasih Ustazah, hati saya adem malam ini," katanya tulus. Dahlia memegang tangan Pak Gatot pelan. "Sama-sama Pak, tapi jangan bilang siapa-siapa ya," pesannya lembut.
7942Please respect copyright.PENANARYsf9f4Lyb
Malam semakin larut tapi kajian harmonis mereka tak berhenti. Pak Gatot bertanya soal foreplay syar'i untuk pemula. Dahlia menjelaskan ciuman dan sentuhan halal sebelum hubungan. "Mulai dari peluk dulu Pak, biar istri rileks," katanya praktis. Pak Gatot membayangkan sambil melirik tubuh Dahlia. "Ustazah praktekkin dong sedikit," godanya nekat. Dahlia tertawa sambil mendorong bahu Pak Gatot.
7942Please respect copyright.PENANAJeZiP8c2pI


